Penulis: Elisabeth Naru
Musik adalah bahasa batin, sebuah cara manusia membicarakan dirinya. Saat musik sampai ke telinga pendengar, musisi turut berbagi cerita mereka. Musik menjadi medium yang menjembatani kesepian, menenun pengalaman terpisah menjadi kenangan bersama.
Pon Daisy, grup band asal Kota Maumere, menyadari kekuatan musik sebagai cara manusia membicarakan dirinya.
Setelah mini album Batu Penjuru yang berisi “Prolegomena”, “Daisyku”, “Raja Rimba”, “Insomnia” dan “Rindu Pulang”, grup yang digawangi Om Rio, Ary, dan Obedo ini akhirnya kembali berbagi cerita melalui album bertitel Siklus.
Album ini berisi enam lagu yakni “Hanya Kita”, “Muda Mudi Mati Pagi”, “Hujan”, “Kutu Buku Kantor”, “Orion”, dan “Tempat Tanggal Lahir.”
Menurut Obedo, sang vokalis, kata ‘siklus’ dipakai sebagai refleksi terhadap perjalanan kehidupan manusia.
“Kita lahir, tumbuh, jatuh cinta, kecewa, bekerja, lelah, kehilangan, lalu mengulang lagi dengan wajah dan konteks yang berbeda,” ujar Obedo saat berbincang dengan after7pm.com secara daring, tengah Februari, 2026.
Siklus berangkat dari pemahaman sederhana akan roda kehidupan. Tiap lagu di dalamnya berbicara tentang fase hidup manusia. Lahir, hidup, lalu mati. Diselingi percintaan, kesedihan, kegembiraan. Ada rutinitas sehari-hari, rasa lelah, kehilangan, bertumbuh dan kejadian-kejadian yang terus berputar dalam waktu. Pon Daisy menyodorkan potongan-potongan pengalaman di dalam fase hidup tersebut.
Oleh sebab itu, mereka memilih merilis satu demi satu lagu, memberi waktu kepada para pendengar untuk mengalami satu per satu ‘siklus’ cerita mereka. Lagu “Hanya Kita” sudah dirilis awal Januari 2026. Sebuah pembuka yang terasa tepat sebagai pintu masuk menuju Siklus.
Trio musisi ini tidak menunjuk satu nomor lagu pun sebagai yang paling berkesan atau paling kuat secara personal. Semua lagu diberi posisi yang setara, ungkap mereka, bahwa dalam hidup tidak ada satu fase pun yang lebih penting dari yang lain. Semua pernah penting, semua pernah menjadi pusat.
Om Rio, pembetot bas, menyebutkan karya mereka lahir dari cerita personal dan pengalaman hidup masing-masing, kejadian lingkungan sekitar, dan perkara-perkara yang dialami sendiri.
Salah satu hal yang terasa kental dalam album ini, baginya, adalah perubahan cara pandang mereka terhadap musik. Proses kreatif Pon Daisy tidak lagi berhenti pada menulis lirik, mengaransemen musik dan merekamnya. Mereka mulai mendengarkan secara lebih dalam; setiap detail terkecil, tekstur suara, juga interaksi antar nada. Juga, secara konsep, ada keberanian untuk membiarkan pendengar menemukan kisah dan pemaknaannya sendiri.
Kolaborasi dengan musisi lain dan eksplorasi lintas genre juga ikut membentuk album ini. Tentu itu tidak membuat Pon Daisy kehilangan identitas. Sehingga Siklus tidak terdengar seperti eksperimen. Lebih seperti ketenangan proses belajar, dan niat untuk mendengarkan sebelum ingin didengar.
Unsur penting dalam proses kreatif mereka kali ini, tandas Om Rio, adalah adanya intensi tersendiri untuk memberi ruang.
Pon Daisy memberi kebebasan kepada pendengar untuk memaknai lagu-lagunya. Mereka tidak menyediakan narasi tunggal. Tidak ada penjelasan panjang tentang apa arti lagu ini atau pesan yang harus ditangkap. Siklus hendak tampil sebagai cermin.
Keterhubungan Emosional
Lagu pertama “Hanya Kita” dalam album ini tidak memosisikan pendengarnya sebagai bagian dari cerita. Pengalaman personal itu sengaja dibiarkan terbuka agar orang lain bisa masuk dan menaruh pengalamannya sendiri di sana. Di situlah tersirat harapan Pon Daisy untuk album ini. Mereka ingin ada rasa keterhubungan emosional yang terbangun.
“Semacam ada solidaritas emosional antara lagu dan pendengar. Entah itu dalam bentuk teriakan, tangisan, nostalgia, atau harapan. Kami berharap pendengar merasa mereka tidak mengalaminya sendirian,” tambah Ary, gitaris dan produser musik.
Siklus ingin hadir sebagai teman duduk di samping saat kamu lelah menjelaskan dirimu sendiri. Pon Daisy ingin membingkai semacam keterhubungan dengan pendengar dan penggemarnya bahwa, “kami ada di sini bersamamu dan kami ingin menemami siklusmu.”
Kendati demikian, Siklus tetap menyiratkan nilai yang kelihatan hanya tersimpan di dalam saku Pon Daisy.
“Kami pernah di sana, maka kami paham rasanya,“ ungkap Ary. Ini semacam sebuah pernyataan manusiawi bahwa suka, senang, duka, kegagalan, dan kesepian bukanlah pengalaman eksklusif. Semua orang pernah melewatinya dengan cara yang berbeda.
Dalam proses pengerjaan album ini, tantangannya bukan konflik kreatif atau krisis identitas. Tantangannya sederhana dan lebih manusiawi; waktu. Masing-masing personel memiliki kesibukan sendiri, kehidupan sendiri, ritme yang tidak selalu bisa disatukan.
Menariknya, keterbatasan ini tidak dilihat sebagai kelemahan. Justru menjadi bagian dari konsep. Siklus lahir dari hidup yang berjalan, bukan dari ruang kosong yang diciptakan khusus untuk berkarya.
Obedo berujar konsep Siklus memang solid sejak awal. Tidak ada perubahan mendadak. Semua sudah direncanakan jauh hari. Tinggal dieksekusi di dapur rekaman. Pendekatan ini membuat album terasa matang tanpa kehilangan spontanitas.
Di tengah budaya instan dalam berkarya, Siklus seperti tidak mau terburu-buru ingin dipahami. Ia tidak menawarkan sensasi baru setiap detik. Itu sebabnya Siklus tetap terdengar personal, tanpa menjadi eksklusif.
Pon Daisy berharap Siklus bisa diterima dalam ekosistem yang lebih luas karena ingin terhubung secara organik dengan penggemarnya. Jika lagu-lagu ini bisa memberikan dampak emosional, energi, atau dorongan berkarya untuk pendengarnya, bagi Pon Daisy itu sudah cukup.
Tidak ada janji besar, tidak ada heroisme. Hanya ajakan untuk berhenti sebentar, menepi dari riuh, sebab bertahan bersama dalam bentuk yang paling sederhana pun sudah cukup menjadi amunisi untuk menghadapi dunia, seperti sepenggal lirik ini: Jangan pergi/ Menepilah/ Berdua kita lawan dunia/ Kau punyaku/ Kupunya-mu/ Hanya kita/ Hanya kita.
Hormat ketua ku