Apakah Kita Mau Mendengarkan? Catatan Setelah Menonton “Nyanyian Musim-Musim”


Oleh: Keeryn De Gerald

Pertunjukan “Nyanyian Musim-Musim“ mengajak para penonton membaca ulang apa arti kehilangan, pun pengorbanan.

Peristiwa berkebun dan menggarap lahan secara berkelompok kini semakin jarang kita temui. Dalam konteks kebudayaan masyarakat Kabupaten Sikka, praktik ini dikenal dengan nama sakoseng, sebuah tradisi mempersiapkan lahan secara kolektif dengan mencangkul sambil bernyanyi.

Di dalam praktiknya, sakoseng tidak semata-mata dipahami sebagai kegiatan ekonomi. Lebih dari itu, sakoseng menjadi ruang untuk berbagi tenaga, membangun solidaritas, dan memastikan kebutuhan hidup bersama tetap terpenuhi. Ia menjadi semacam repertoar kultural dan praktik kolektif masyarakat dalam merawat keberlangsungan hidup.

Dewasa ini, praktik sakoseng tidak hilang secara langsung, ia pelan-pelan ditinggalkan oleh anak muda yang lebih memilih pergi merantau daripada menggarap lahan. Perlahan tradisi ini tidak dilakukan dan tidak diwariskan lagi.

Saya akhirnya sedikit banyak memahami dilema yang dialami sang sutradara, Maria Ludvina Koli.

Tidak hanya menyoroti warisan yang telah hilang dari ingatan kolektif, “Nyanyian Musim-Musim” juga mengajak kita untuk kembali membaca ulang kehilangan dan pengorbanan dalam bingkai tradisi dan modernitas.

Pementasan yang berlangsung pada tanggal 7-8 Agustus 2026 di Aula Rumah Jabatan Bupati Sikka ini diawali dengan pertanyaan yang tertulis besar pada layar di panggung.

“Apakah buah yang jatuh tetap terdengar bunyinya, meski tidak ada seorang pun yang mendengarnya?”

“Ya,” sontak saya menjawab dalam hati.

Adegan dimulai.

Sekilas penonton bisa langsung merasakan nuansa politis dari imaji-imaji estetis yang diperagakan para aktor Studio Teater KAHE: Ina Atu, Mario Nuwa, Kartika Solapung, Silvy Chipi, Litha Riyani, dan Megs Seto. Penataan cahaya, bunyi, serta berbagai properti yang tersaji di atas panggung; timbangan/dacing, kacang hijau, jagung, ompreng MBG, senter, gaun merah, hingga baju partai politik, tidak lagi hadir sekadar sebagai properti. Benda-benda tersebut justru menjelma menjadi suara vokal, yang turut berbicara, menyusun makna, sekaligus mempertegas relasi kuasa yang sedang dipertontonkan.

Adegan pertama berlangsung santai. Namun terasa menohok. Ada pedagang di sebuah Kios Bugis sedang sibuk menghitung barang dagangan, sementara para pekerjanya makan menggunakan ompreng MBG. Adegan ini tampak ringan untuk dipertontonkan, tetapi menyimpan sesuatu yang berat jika dibaca dari kenyataan hidup masyarakat di Maumere.

Kita semua tahu bahwa memulai usaha adalah hak siapa pun. Namun, entah secara sadar maupun tidak, keberadaan kios-kios kecil milik penduduk setempat di Maumere kini perlahan semakin terdesak. Di sejumlah ruang, kios-kios tersebut berhadapan dengan usaha yang menawarkan jenis kebutuhan rumah tangga yang lebih beragam dan memiliki daya jangkau pasar yang lebih luas. Persoalannya bukan tentang siapa yang boleh atau tidak boleh membuka usaha melainkan tentang bagaimana perubahan lanskap ekonomi ini perlahan mengubah wajah ruang-ruang ekonomi masyarakat setempat.

Adegan ini, terus terang, bikin saya gelisah. Terbersit pertanyaan di dalam benak, siapa yang pada akhirnya mampu bertahan di tengah perubahan. Ketika usaha-usaha kecil milik masyarakat lokal semakin sulit bersaing, barangkali yang sedang kita saksikan bukan sekadar pergantian kios, tetapi perubahan atas cara sebuah kota menopang kehidupan warganya. Entahlah, mungkin justru kegelisahan itulah yang ingin ditinggalkan sang sutradara.

Sesuai dengan judulnya, “Nyanyian Musim-Musim” tidak hanya ‘berbicara’ tentang musim, tetapi juga melantunkannya. Begitu banyak nyanyian hadir silih berganti (Anak Kepala Satu, MBG Mas Bahlil Ganteng, O Manunggo, Uma Morung Mate dan Tanah Airku), mengikuti musimnya, mengikuti waktunya. Suara nyanyian para aktor seolah menjadi penanda perubahan dalam pertunjukan, membawa penonton berpindah dari satu suasana ke suasana lain, dari satu ingatan menuju ingatan berikutnya. Nyanyian di sini tidak sekadar menjadi pelengkap, ia turut memberi ritme, menghidupkan cerita.

Di tengah alur yang terus bergerak, pertunjukan ini juga memberi ruang berpikir bagi penonton melalui permainan interaktif yang dipandu oleh “aktor kita semua,” Mario Nuwa. Interaksi ini mengaburkan batas ketat antara panggung dan kursi penonton. Penonton tidak datang untuk melihat, tetapi juga diajak masuk, terlibat, bahkan mengambil bagian dalam jalannya cerita.

Silvy Chipy muncul dengan membawa kartu-kartu permainan. Kehadirannya seperti jeda yang datang pada waktu yang tepat. Barangkali, ia adalah air bagi penonton yang tengah kehausan akan adegan-adegan krusial lainnya—memberi kesegaran, sekaligus menjaga rasa penasaran agar pertunjukan tetap hidup. Sebab, setelah permainan usai, penonton kembali dihadapkan pada perjalanan cerita yang belum sepenuhnya usai, dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung.

Pada fragmen lain, kisah Du’a Nalu Pare dihadirkan dalam sebentuk rekonstruksi yang melibatkan penonton, yang ikut menentukan potongan-potongan imaji dari narasi pengorbanan Du’a Nalu Pare. Ini adalah pengalaman pertama saya menjadi penonton yang aktif. Tidak menyaksikan secara pasif dari kejauhan, melainkan memiliki hak yang sama untuk terlibat dan ambil bagian di atas panggung pertunjukan.

Selain mengusung tema duka ekologis, pertunjukan ini juga melebarkan spektrum pembacaannya terhadap isu gender dan politik tubuh pengetahuan. Ketika kerusakan, perubahan, dan kehilangan harus dihadapi melalui pengorbanan seorang perempuan, maka muncul kesadaran akan peran perempuan yang di sepanjang usia peradaban manusia terlibat dalam kerja-kerja perawatan; merawat kehidupan, tradisi, keluarga, pengetahuan, dan ingatan kolektif. Di titik inilah persoalan ekologis dan gender saling bertaut. Upaya menjaga apa yang tersisa justru bertumpu pada tubuh, tenaga, dan pengorbanan.

Ina Atu berperan sangat baik sebagai Nalu yang mengorbankan dirinya supaya kekeringan berhenti melanda kampung. Ada juga Kartika Solapung yang duduk menampi jagung giling, semakin lama semakin cepat, semakin lama semakin terengah-engah, ritme tanpa aturan, terhimpit tanggung jawab. Silvy Chipy tampil begitu apik, dia mempertanyakan identitas gender sebenarnya seorang Nalu. Apakah dia seorang perempuan, pria, atau waria?

Lagi-lagi, sebuah pertunjukan sederhana dengan kompleksitasnya sendiri. Di balik itu, satu hal yang sudah pasti, “Nyanyian Musim-Musim” tidak memberikan rentetan jawaban yang telah paripurna. Yang ia tinggalkan justru pertanyaan-pertanyaan. Nyanyian siapa yang selama ini kita dengar, kehilangan siapa yang selama ini kita anggap biasa, dan pengorbanan siapa yang selama ini kita rayakan tanpa pernah benar-benar kita pertanyakan? Dan mungkin, seperti buah yang jatuh, pengorbanan itu tetap memiliki bunyi.

Pertanyaan di awal tadi masih terus bergaung di dalam kepala, sampai tiba-tiba saya ingin sekali menjawabnya dengan lantang di akhir pertunjukan.

“Apakah buah yang jatuh tetap terdengar bunyinya, meski tidak ada seorang pun yang mendengarnya?”

Bagi saya, pertanyaannya bukan lagi apakah ada yang mendengarkan atau tidak. Namun apakah, kali ini, kita benar-benar mau mendengarkan.


LOADING...
klik untuk info siaran dan live chat

Loading Time...

Terima kasih atas dukungan Anda! Setiap kontribusi sangat berarti bagi kami untuk terus berkarya. Kami menghargai setiap kopi yang Anda belikan. ♥

Iin sina 16 Sep 2026
Pius angelo oktaviani dato

Kahe tetap jaya

27 Jul 2026
Mr. Nobody

Selamat Bertugas Noizer!!!

24 Mar 2026

Dukung Kami

Transfer ke salah satu rekening berikut:

BRI 011901054069504 a.n. Maria Apriani Kartika Solapung

* Sertakan nama rekening yang Anda gunakan saat transfer.