Dari Bioskop Golden ke VCD: Popularitas Hantu Suzzanna di Maumere

Eka Putra Nggalu

 

Di kalangan generasi 90-an kota Maumere, ingatan yang paling membekas soal film horor adalah wajah seram Suzzanna dan lengkingan suara hantu. Saya mencoba mengajak ngobrol Gee, Sesil dan Nay yang turut mengalami masa tersebut. Obrolan kami menjadi begitu menarik karena mereka tidak saja masih ingat detail cerita Sundelbolong (1981), Ratu Ilmu Hitam (1983), Telaga Angker (1984), Malam Satu Suro (1988), Santet (1988) dan judul-judul film Suzzanna yang lain, tetapi juga usaha dan perjuangan orang-orang untuk bisa menikmati film yang cepat sekali populer di kalangan masyarakat. Peredaran seri-seri horor Suzzanna turut menandai masa-masa evolusi media dan ruang yang menyediakan tontonan audio-visual, baik dalam bentuk individual maupun kolektif bagi warga kota Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur ini.

Film-film Suzzanna yang rata-rata diproduksi antara tahun 1980-1991 sebenarnya sudah beredar di kalangan warga kota Maumere pada pertengahan era 80-an. Film-film Suzzanna bisa dinikmati warga Maumere melalui satu-satunya well-built bioskop bernama Golden yang beroperasi tahun 1980-1990. Bioskop ini dikelola oleh beberapa keluarga keturunan Tionghoa dan dibuka untuk umum. Dalam sehari, Golden bisa dilakukan 2 sampai 3 kali pemutaran tergantung ketersediaan film dan antusiasme penonton. Biasanya, pemutaran film berlangsung pukul 5 dan 7 sore, plus edisi midnight yang dimulai jam 9 hingga 11 malam. Harga tiketnya terbilang cukup mahal pada masa itu, yaitu Rp2.500 untuk kelas 3, Rp5.000 untuk kelas 2, Rp7.500 untuk kelas 1 dan Rp10.000 untuk VIP.

Film Suzzanna adalah salah satu yang paling laris di bioskop ini, bersanding dengan film-film Rhoma Irama, film silat Barry Prima, film-film bertema keluarga dan cinta seperti Biarkan Kami Bercinta (1984), atau film G30S/PKI yang menjadi tontonan wajib anak-anak sekolah. Film yang populer dan ramai penonton biasanya diputar selama sebulan penuh. Golden mempromosikan tiap film menggunakan mobil berpelantang suara dengan poster film di belakangnya. Sepanjang jalan, seorang petugas membacakan judul, jadwal dan sinposis film secara dramatis.

Sebenarnya, sebelum bioskop Golden beroperasi, sudah ada satu bioskop bernama Ili Gai yang dikelola warga lokal, seorang kepala kepolisian pada masa itu. Ili Gai kerap memutar film Suzzanna sebagai salah satu special present. Meski berbayar, model menonton di Ili Gai lebih fleksibel karena berlangsung di halaman rumah dengan layar berupa tembok putih. Ili Gai selalu bubar tiap hujan gerimis sehingga dikenal juga dengan istilah bioskop misbar—gerimis bubar. Ili Gai menjadi alternatif ruang menonton selain layar tancap, program dinas penerangan yang menayangkan film-film sosialisasi nilai-nilai pancasila dan program-program pemerintah.

Bioskop Golden berhenti beroperasi sekitar tahun 1990-1991. Bukan karena sepi penonton, melainkan semakin sulitnya akses terhadap film-film baru oleh produser Indonesia. Menurut pengelola dan beberapa penonton setia bioskop ini, pada tahun-tahun tersebut perfilman Indonesia sangat sepi. Tidak banyak film yang diterima dengan antusiasme yang tinggi seperti pada satu dasawarsa sebelumnya.

Beriringan dengan menjamurnya televisi di ruang-ruang keluarga. Siaran TVRI, yang masuk ke Maumere sejak didirikannya sebuah pemancar lokal pada Mei 1980, semakin luas aksesnya.

Setelahnya, parabola yang memungkinkan penayangan siaran-siaran televisi swasta masuk beriringan dengan tren VCD. Di Maumere, orang-orang mengenal dan menyebut secara metonimia media-media pemutaran ini dengan nama Winersat, Venus atau Matrix untuk parabola, dan Polytron atau Sharp untuk VCD. (Berbahagialah perusahaan yang menjadi pionir distributor barang-barang ini!)

Di awal era parabola dan VCD, kebiasaan nonton berjamaah di kalangan warga kota Maumere bangkit kembali. Lagi-lagi, film Suzzanna turut menandainya. Muncul persewaan VCD yang meminjamkan dan menjual kaset serial lengkap Suzzanna. Film-film Suzzanna menjadi laris, salah satunya karena nostalgia akan era bioskop. Di awal 2000-an, Suzzanna kerap tayang di stasiun televisi swasta pada hari Minggu siang. Pada masa inilah generasi 90-an mulai bisa menonton film horor legendaris Indonesia tersebut.

Pemutaran VCD di masa itu sering dilakukan secara massal karena VCD masih jadi

barang mahal. Gee masih ingat bagaimana teman-temannya beramai-ramai mencari dan memikul kayu api demi membeli tiket pemutaran VCD. Dia sendiri lebih bebas menonton karena masih berkerabat dengan pemilik VCD. Orang-orang yang datang menonton tidak hanya berasal dari tetangga sekitar, tetapi juga dari kampung-kampung yang agak jauh. Biasanya, jika pemutaran film Suzzanna dilakukan malam hari, anak-anak lebih memilih menginap di rumah pemilik VCD dan baru pulang esok hari daripada menerobos gelap malam dan dihantui bayang-bayang Suzzanna.

Sesil punya cerita lain. Sebelum menonton, warga di sekitar tempat tinggalnya harus berupaya mengumpulkan uang untuk dua hal. Pertama untuk meminjam kaset VCD. Kedua untuk membeli bensin sebagai bahan bakar genset (generator pembangkit listrik) karena listrik hanya tersedia selama setengah hari. Karena itu penting sekali memilih film yang popularitasnya sudah teruji agar tidak mengecewakan para penonton yang hampir seluruh warga kampung. Tentu saja, Suzzanna jadi pilihan yang tidak perlu diragukan lagi.

Nay memiliki VCD player sendiri di rumahnya. Atas instruksi ayahnya, VCD player itu hanya boleh digunakan pada hari Minggu setelah semua anak mengikuti misa (perayaan ekaristi katolik) dan setelah semua pekerjaan rumah beres. Biasanya kaset VCD dipinjam di hari Jumat atau Sabtu. Semua teman dan tetangga diajak untuk datang dan nonton bersama dengan ditemani rujak atau es buah. Sama seperti yang lain, Suzzanna menjadi salah satu film pilihan. Alasannya tidak jelas, yang pasti popularitas Suzzanna seperti lebih besar dari serial-serialnya.

Di tengah segala keterbatasan dan minimnya akses terhadap tontonan serta media dan ruang menonton di Maumere, Suzzanna pernah menjadi salah satu yang bisa hadir, diapresiasi dan lekat dalam ingatan kolektif dua generasi warga. Kadang, yang horor dan menyeramkan adalah yang paling akrab dan melegakan di masa sulit dan terbatas.

0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
LOADING...
klik untuk info siaran dan live chat

Loading Time...

Terima kasih atas dukungan Anda! Setiap kontribusi sangat berarti bagi kami untuk terus berkarya. Kami menghargai setiap kopi yang Anda belikan. ♥

Mr. Nobody

Selamat Bertugas Noizer!!!

24 Mar 2026

Dukung Kami

Transfer ke salah satu rekening berikut:

BRI 011901054069504 a.n. Maria Apriani Kartika Solapung

* Sertakan nama rekening yang Anda gunakan saat transfer.

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x