Dari ‘Grab Buku’ hingga Ide Maumere Creative Centre: Gebrakan Terkini Disarpus Sikka!

Keeryn Degerald

 

Siang itu, suasana di Aula Frans Seda, lantai dua Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sikka, terasa tenang. Dari ruangan itulah sebuah gagasan sedang dirawat: bagaimana menghidupkan budaya literasi di daerah.

Saya tiba ketika mahasiswa program studi Sistem Informatika dari IFTK Ledalero sedang mempresentasikan website yang mereka kerjakan untuk Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. Pengerjaan website tersebut adalah bagian dari praktik kerja lapangan dan bentuk pengabdian kampus terhadap masyarakat. 

Bagi Disarpus, keterlibatan dan dukungan mahasiswa adalah salah satu langkah perubahan yang sedang jadi target kerja mereka sekurang-kurangnya lima tahun ke depan, yaitu memperluas akses warga kota Maumere terhadap perpustakaan daerah. Sesuatu yang selama ini rasa-rasanya belum optimal dilakukan. 

Dengan gaya santai dan mengalir, Very Awales, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sikka mengarahkan pembicaraan kami, menceritakan upaya yang ia lakukan untuk membangun kolaborasi dengan generasi muda yang berdaya.

Very Awales menyadari bahwa tantangan literasi hari ini jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Menurutnya, perubahan besar sedang terjadi dalam cara generasi muda berinteraksi dengan pengetahuan. Tidak hanya anak-anak dan remaja, orang dewasa hari ini pun hidup di tengah arus informasi digital yang sangat cepat; mulai dari media sosial hingga berbagai permainan juga hiburan digital yang menyerap banyak waktu mereka. Di tengah arus tersebut, buku fisik perlahan kehilangan tempatnya.

Ada kesungguhan dalam kalimatnya. Dari situ saya melihat, ini bukan hanya wacana. Ini adalah awal mula yang baik untuk sebuah inisiatif. Ini adalah gebrakan. 

Salah satu persoalan yang langsung ia soroti adalah akses terhadap buku. 

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk datang langsung ke perpustakaan. Sebagian masyarakat tinggal cukup jauh, sementara yang lain memiliki keterbatasan fisik atau terhalang kondisi kesehatan. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan mencoba menjawab persoalan ini dengan melahirkan program “Grab Buku”.

Melalui layanan Grab Buku, buku dapat diantar langsung ke rumah warga—terutama bagi lansia, penyandang disabilitas, pasien rumah sakit, atau keluarga yang sedang menjaga anggota keluarga yang sakit. Setelah selesai dibaca, buku tersebut akan dijemput kembali oleh petugas perpustakaan.

Langkah ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi dinas perpustakaan, inisiatif tersebut menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa buku tetap dapat menjangkau siapa saja. Menurut Very Awales, program ini merupakan bagian dari upaya melakukan terobosan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Kabupaten Sikka.

Program Grab Buku juga sedang diupayakan untuk bekerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan Kabupaten Sikka. Alih-alih membiarkan buku-buku rapih tersimpan di rak-rak perpustakaan daerah, program ini akan membuka semacam satelit perpustakaan di rumah tahanan. Hal ini diharapkan bisa menjadi bagian dari program-program pembinaan bagi para penghuni rumah tahanan. 

Bentuk perhatian lain Disarpus Sikka terhadap akses atas bacaan juga terlihat dari upaya transformasi digital yang tengah dikembangkannya. 

Proses pendaftaran anggota yang sebelumnya harus dilakukan secara langsung di kantor perpustakaan daerah kini dapat dilakukan secara daring melalui tautan dan kode batang yang terhubung dengan pangkalan data Disarpus.

Perubahan ini ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan. Dalam waktu kurang dari dua bulan sejak sistem baru diperkenalkan, jumlah anggota perpustakaan meningkat dari sekitar 6.500 orang menjadi lebih dari 7.000 orang. 

Angka tersebut tentu masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan 340.961 jiwa, total jumlah penduduk keseluruhan Kabupaten Sikka sesuai data terkini. Meski begitu, jumlah pengunjung perpustakaan yang meningkat menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat sebenarnya masih ada. Tantangannya memang perihal akses yang lebih luas terhadap buku dan ruang belajar.

Berkaitan dengan ruang belajar Disarpus Sikka tengah menginisiasi program ‘Wisata Literasi’, sebuah pendekatan yang mencoba mengakselerasi proses pembelajaran melalui pengalaman langsung.

“Kalau di perpustakaan itu biasanya suasananya terasa kaku—tenang dan hening. Karena itu kami mencoba membuat pendekatan yang berbeda melalui program Wisata Literasi. Program ini menghadirkan kegiatan yang lebih menyenangkan dan mendalam bagi anak-anak,” jelas Very Awales.

Program ini ditujukan bagi para pelajar, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Tujuannya bukan sekadar membuat anak-anak membaca buku, tetapi memberi mereka pengalaman yang lebih konkret tentang cara pengetahuan bekerja dalam kehidupan nyata.

Dalam salah satu pengaplikasian program tersebut, para siswa diajak mengunjungi berbagai unit kerja di lingkungan pemerintah daerah. Mereka diperkenalkan dengan berbagai bagian pemerintahan antara lain bagian hukum, bagian sumber daya alam, bagian ekonomi, bagian pengadaan barang dan jasa, bagian umum, bagian protokol dan komunikasi pimpinan, hingga bagian perencanaan dan keuangan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya membaca buku, tetapi juga melihat langsung bagaimana sistem pemerintahan berjalan. Dengan begitu mereka bisa memahami secara lebih mendalam apa sebenarnya tugas dan tanggung jawab Bupati, Wakil Bupati, maupun Sekretariat Daerah,” ujarnya.

Melalui pengalaman langsung ini, para pelajar dapat melihat bagaimana sebuah pemerintahan bekerja di balik meja-meja administrasi yang selama ini hanya mereka dengar dalam pelajaran di sekolah. Wisata Literasi memperluas makna literasi, tidak terbatas pada baca tulis tetapi juga perihal pengetahuan dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari (life skill).

Very Awales juga tengah menyiapkan sebuah program lain yang dirancang untuk membuka ruang belajar kolektif bagi anak-anak di Kabupaten Sikka. 

Melalui program ini, sekolah-sekolah boleh mengirimkan siswa—terutama dari kelas lima atau kelas enam—untuk mengikuti kegiatan belajar selama dua jam di perpustakaan. Berbeda dengan pelajaran di sekolah, kegiatan belajar di perpustakaan ini tidak akan berfokus pada mata pelajaran formal seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, atau IPS. Para siswa akan diperkenalkan pada berbagai bidang pengetahuan dan profesi yang jarang mereka temui di ruang kelas.

Misalnya, mereka akan belajar tentang dunia jurnalistik—bagaimana seorang wartawan bekerja, bagaimana berita ditulis, dan bagaimana seorang penyiar menyampaikan informasi kepada publik. Materi tersebut rencananya akan dibawakan langsung oleh para jurnalis dan penyiar dari berbagai media.

Selain dunia jurnalistik, profesional lain seperti dosen, pengacara, dokter pun akan diundang untuk mengisi kelas bersama para siswa. Selain kalangan akademisi dan profesional, program ini juga berencana melibatkan berbagai institusi lain seperti TNI dan Polri agar para siswa dapat memahami peran mereka dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Very Awales, pendekatan seperti ini penting agar anak-anak mulai memiliki gambaran tentang masa depan mereka sejak usia dini.

“Visi anak-anak harus mulai dipersiapkan sejak dini. Karena itu, kami ingin memperkenalkan berbagai profesi kepada mereka, supaya mereka punya gambaran tentang masa depan mereka,” ujarnya.

Dari berbagai langkah konkret ini, perubahan paling menarik justru terlihat pada bagaimana peran penting perpustakaan dilihat ulang dan cara beradanya dimaknai kembali. Oleh Very Awales, terlihat bahwa perpustakaan tidak lagi diposisikan sebagai ruang pasif yang menunggu pengunjung. Perpustakaan tidak bisa hanya menunggu orang datang membaca. Ia harus bergerak keluar, mendekati masyarakat, dan menemukan cara-cara baru agar diseminasi pengetahuan melalui kerja-kerja literasi bisa terus relevan. 

Melalui berbagai program-program gebrakan di atas, perpustakaan juga mengambil peran sebagai ruang kreatif dan alternatif, membuka wawasan anak-anak tentang dunia yang lebih luas. Literasi tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca buku atau menulis. Ia juga menyangkut bagaimana pengetahuan dibagikan, dipertukarkan, dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di masa depan, Very Awales ingin agar perpustakaan daerah Kabupaten Sikka juga bisa menjadi Maumere Creative Centre—sebuah ruang temu dan simpul yang terbuka, menghubungkan, serta menggalakkan kerja-kerja kreatif dan gerakan sosial budaya dari para pelaku kreatif serta inovator muda kota Maumere. 

Beberapa ruang di lingkungan kantor perpustakaan, termasuk aula dan pelataran, dibayangkan dapat digunakan untuk berbagai aktivitas kreatif seperti pertunjukan musik akustik, pembacaan puisi, stand-up comedy, pemutaran film, hingga diskusi-diskusi. Bagi Very Awales, membuka ruang semacam ini penting karena literasi tidak hanya tumbuh dari buku, tetapi juga dari perjumpaan antarmanusia.

Gagasan tersebut juga mendapat perhatian dari kalangan komunitas seni di Maumere. Salah satu pegiat seni dari Komunitas KAHE, Rio Gero melihat bahwa upaya menghidupkan perpustakaan sebagai ruang publik-terbuka dan kreatif merupakan langkah yang signifikan bagi pengembangan kota, terutama bagi pengembangan intelektualitas serta rasionalitas publik. 

“Kalau intelektualitas pejabat daerah mulai bangkrut, maka yang harus dicek adalah lumbung-lumbungnya: perpustakaan, koleksi buku, minat baca, dan ruang-ruang diskusi di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Gero, literasi sering kali lahir justru dari ruang-ruang pertemuan—tempat orang berkumpul, berdiskusi, bertukar gagasan, dan mengekspresikan kegelisahan mereka.

Di Maumere sendiri, berbagai komunitas seni cukup aktif menggelar diskusi, pameran, pertunjukan musik, hingga pembacaan puisi. Bagi para pegiat komunitas, kegiatan semacam ini bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat proses berpikir bersama—cara masyarakat memahami dunia dan mengekspresikan pengalaman hidup mereka.

“Ketika orang berkomunitas, mereka berkumpul, ngobrol, berdiskusi, dan mengekspresikan kegelisahan mereka. Itu juga bagian dari penting dari apa yang disebut produksi pengalaman yang melahirkan pengetahuan,” katanya.

Dukungan pemerintah untuk menyediakan ruang publik yang aman dan terbuka bagi aktivitas komunitas sungguh signifikan dan berharga. Dalam konteks ini, ruang-ruang yang dimiliki oleh perpustakaan daerah dapat menjadi tempat yang memungkinkan berbagai kegiatan tersebut berlangsung.

Bagi sebagian orang, gagasan menjadikan perpustakaan sebagai ruang komunitas mungkin aneh, tidak cocok atau terdengar tidak biasa. Namun, di beberapa kota di dunia, perpustakaan modern memang mulai bergerak ke arah itu—menjadi ruang publik yang hidup dan inklusif.

Salah satu contoh yang sering dirujuk adalah Oodi Helsinki Central Library di Helsinki, Finlandia.

Perpustakaan ini tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga berbagai ruang aktivitas seperti ruang diskusi komunitas, studio rekaman musik, ruang multimedia, dapur komunitas, ruang kerja kreatif dengan printer 3D, hingga ruang pertunjukan seni.

Banyak anak muda datang ke sana bukan hanya untuk membaca, tetapi juga untuk bertemu, bekerja, berkarya, dan berdiskusi. Di sana, perpustakaan dipandang sebagai salah satu jantung kehidupan demokrasi dan budaya kota.

Di Maumere, upaya menuju arah tersebut mungkin masih berada pada tahap awal. Namun, gagasan itu sudah mulai membuka kemungkinan baru tentang bagaimana sebuah perpustakaan dapat berfungsi bagi masyarakat.

Di kepala Very Awales, perpustakaan perlahan mulai dibayangkan sebagai sesuatu yang lebih luas—bukan hanya tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan. Ia mengubah stereotype arsip sebagai barang usang dan perpustakaan sebagai tempat para kutu buku menjadi ruang temu yang penuh semangat dan antusias. Jika di kalangan birokrat, dinas ini sering dianggap sebagai ‘tempat buangan’ bagi para lawan politik, atau pejabat yang sudah hampir pensiun, di tangan Very Awales, dinas ini justru berpotensi menjadi jantung yang memacu ide-ide hingga gerakan-gerakan yang menumbuhkan kota Maumere secara sosial, kultural, maupun ekonomi.

“Saya memulai pengabdian saya dengan coba mengubah perspektif orang tentang peran penting dinas ini. Perpustakaan dan kearsipan harusnya menjadi jantung dari pembangunan serta perkembangan kota. Jika selama ini dia menjadi yang terbelakang, harusnya ada sesuatu yang keliru,” demikian Very Awales. 

Suatu hari nanti, mungkin saja ruang-ruang di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka tidak hanya dipenuhi rak buku dan meja baca. Bisa jadi di sekitar halamannya, akan kita jumpai panggung-panggung kecil, tempat-tempat ngopi sederhana, dinding-dinding penuh mural, taman-taman dengan lampu hias hingga ruang-ruang diskusi sederhana. Dari sekelilingnya terdengar suara musik akustik, pembacaan puisi, atau percakapan panjang tentang kota Maumere hari ini dan angan-angan masa depannya.

Kita nantikan gebrakan selanjutnya!

5 1 vote
Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Very Awales
Very Awales
27 Maret 2026 1:13 pm

Terima kasih atas dukungan dan kerjasama yang baik dari After7pm dan Komunitas Kahe untuk kegiatan Disarpus Sikka. Semoga ada kerjasama berkelanjutan untuk penguatan literasi dan sains di Nian Tana Sikka Maumere Manise.

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x