Kartika Solapung

 

“Mama jualan di sini?” 

Iye, pesiar-pesiar kita ke rumah,” jawab mama Hastira berdialek Bajo. 

Sore itu saya menyusuri jalan berlubang menuju kampung Wuring. Di sisi kiri dan kanan berjejer lapak penjual ikan dan sayur, mulai dari gerbang masuk kampung sampai ke bekas area parkiran pasar Wuring yang sudah ditutup.Tempat mama Hastira berjualan adalah akhir dari barisan penjual ikan. Katanya, tidak ada lagi warga yang menjual ikan sampai ke kampung ujung.

Pemandangan ini sama seperti yang terlihat belasan tahun lalu ketika belum ada lapak dan bangunan pasar PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) maupun yang dibangun oleh CV Bengkumis. Tidak seperti dulu, saat ini para penjual tidak berjualan sampai di depan rumah-rumah.

Pasar Wuring ditutup pada Desember 2025 silam karena status hukumnya yang ilegal dan lokasinya yang tidak sesuai dengan tata ruang wilayah. Begitu kira-kira dalih pemerintah daerah kabupaten

Pasar tradisional ini terletak di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pasar ini merupakan pusat aktivitas perdagangan masyarakat setempat, terutama komunitas nelayan di pesisir kampung Wuring. Segala jenis ikan segar bisa didapatkan di sana, juga aneka jajanan kuliner khas Wuring yang sangat menggiurkan.

Pasar Wuring sangat dikenal oleh sebagian besar masyarakat kabupaten Sikka, tetapi tidak dengan kampungnya. Kebanyakan warga hanya mengunjungi pasarnya saja. Padahal di sana ada pelabuhan, masjid terapung, dan rumah-rumah apung yang khas.

Saya ingin bercerita tentang perjalanan ikan-ikan, hangatnya senja di masjid terapung yang ikonik, dan makanan enak yang sering saya jumpai di pasar atau saat berkunjung ke rumah teman-teman di Wuring.

Baiklah, kali ini saya memulai dengan perjalanan ikan-ikan. 

Pelabuhan Wuring menjadi gerbang masuknya ikan, beras, dan bahan sembako lainnya. Penadah atau supplier dari kapal ikan biasa disebut dengan “kapal perikanan.” 

Kapal perikanan dari Pemana berlayar selama satu hari di seputar pulau Pemana dan Palue untuk memancing ikan besar seperti cakalang, tuna, tongkol, martasi, dan lain-lain. Hasilnya bisa berton-ton. Umpannya berupa ikan lure halus dari bagan atau kelong. Kapal perikanan berlabuh di pelabuhan Wuring, ikannya diambil supplier. Ia menyuplai ikan ke papalele dengan jualan per kilogram. Papalele mendistribusikannya ke penjual ikan dan menjual secara eceran di pasar.

Selain kapal perikanan, nelayan kampung Wuring juga memiliki lamparakapal ikan dengan jala atau jaring, yang menangkap ikan kecil seperti selar, layang, kombong, dan apa pun jenis ikan yang terjebak jaring pukat. 

Lempara juga berlabuh di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan menjualnya ke papalele atau langsung ke penjual ikan di TPI. Satu lagi jenis kapal bernama jolor yaitu kapal pancing ikan tuna. Para nelayan bisa menghasilkan 1-2 ton tuna sekali mencari. Tumpukan ikan itu didistribusikan ke perusahaan ikan tuna, umumnya juga diekspor. 

Selain ikan, berton-ton beras didatangkan dari Makassar dan Bone langsung ke pelabuhan Wuring. Kapal-kapal pengangkut beras ini berlayar sekitar tiga hari sebelum berlabuh di pelabuhan Wuring. Warung kelontong yang sering dikenal dengan nama kios Makassar atau kios Bugis di sepanjang kota Maumere, mengambil barang-barang jualan dari sini. 


Sejak tahun 2017 saya mengenal mama Hastira yang setiap sore menjual ikan di pasar Wuring. Suami mama Hastira juga seorang nelayan. Ia menjual ikan hasil tangkapan suaminya atau mengambilnya dari papalele. Tergantung apa yang bisa mereka dapat untuk dijual. 

Dari mama Hastira, Mbo Sungke, Bibi Sali, Bibi Ani, dan lainnya, saya mengetahui bagaimana ikan-ikan diperoleh dan dijual hingga sampai di meja makan pembeli. Selain membeli ikan, saya pun pernah ikut menemani Bibi Ida menjual ikan di pasar Wuring. Kebetulan selama dua minggu saya menginap di rumahnya. Dia tak sungkan mengajak saya ikut berjualan di lapaknya setiap sore. 

Perkenalan saya dengan orang-orang yang disebutkan di atas dan dengan warga Wuring lainnya berawal dari aktivitas bersama Komunitas KAHE. Kami bertemu, saling bertukar cerita, dan melakukan kegiatan kesenian bersama.

Lia, anak mama Hastira, sering mengajak saya makan di rumahnya. Karena perjumpaan itu, saya mengenal pula kuliner-kuliner khas kampung Wuring yang mayoritas warganya merupakan suku Bajo dan Bugis. Dalam riset bersama Komunitas KAHE, saya juga mencari tahu makanan apa saja yang ada di sana.

Saya kembali teringat perjumpaan awal dengan teman-teman remaja Wuring dan bibi-bibi (lazimnya perempuan dewasa disapa di kampung Wuring). Makanan menjadi pintu masuk mengetahui kebudayaan, sejarah, dan cerita mereka

Di dapur mama Hj. Pode saya mengetahui segala rahasia di balik kenikmatan buras, gogos, bajabu, kapurung, gape-gape kima, papi, tape ketan, kasuami, dan makanan bercita rasa lainnya. Para perempuan juga mendapat penghasilan dari berjualan aneka kuliner di pasar Wuring. 

Mama Hj. Pode adalah juru masak. Ia mendapat warisan resep masakan tersebut dari ibunya, Mbo Siti. Sekarang Ani, anaknya, mewarisi resep masakan itu dan menjajakannya di pasar Wuring.  

Di pasar kita bisa melihat aneka jajanan warna-warni, sangat memanjakan mata, apalagi jika dimakan sambil memandang senja di pesisir utara Maumere. Ah, nikmatnya! 

Di bulan ramadan bertambah lagi aneka panganan yang bisa kita jumpai. Namun, sekarang pemandangannya tidak seriuh warna-warni sebelum pasar ditutup. Jajanan tersebut juga dijual di sepanjang sisi jalan satu arah ke dalam kampungjalan yang berlubang, becek, dan penuh genangan sisa air hujan. Kondisi itu tidak menyurutkan masyarakat untuk datang berbelanja di sana.

Pada senja hari, saya pun selalu ingin berbelanja di sana meski sudah kesal terlebih dulu dengan kondisi jalan berbecek. Tapi, terasa tidak adil jika hanya pembeli seperti saya yang mengungkapkan kekesalan ini. Bibi Sali dan Bibi Ani yang sejak tahun 2020 sudah mengungkapkan kesulitan-kesulitannya menjalani hidup sehari-hari. Mulai dari biaya sekolah anaknya, keadaan dapur yang memprihatinkan, hingga iuran koperasi harian. 

Hampir semua penjual ikan adalah perempuan sebab suami mereka sudah pergi melaut, dan tugas menjual di pasar adalah para istri atau ibu di rumah. Ketika diberitakan bahwa pasar Wuring akan segera ditutup, timbul keresahan di antara mereka. Dengan mata berkaca-kaca Bibi Ani mengatakan mereka sangat tidak ingin pasar Wuring ditutup, sebab pasar adalah tempat mereka mencari nafkah. Jika dipindahkan jauh dari Wuring, mereka akan mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk pergi berjualan, juga akan berpengaruh pada aktivitas harian mereka.

Kampung Wuring seperti sebuah dunia yang beroperasi dengan logikanya sendiri. Hidup mereka selaras dengan waktu “ikan naik.” Segala aktivitas mereka terjadi di dalam kampung. Itulah mengapa pasar itu seyogyanya ada di sana, yang pada mulanya ikan-ikan hanya digelar di depan rumah-rumah mereka.

Para nelayan Wuring adalah nelayan ulung sehingga aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya sangat bergantung dari hasil laut. Betapa masyarakat Maumere yang sangat gemar mengonsumsi ikan ini bergantung pada nelayan kampung Wuring. Pasar Wuring menjadi tempat utama transaksi ikan segar nan beragam.

Jadi, pasar Wuring bukan sekadar ruang jual beli, tetapi juga ruang interaksi sosial antar komunitas pesisir dan daratan. Ia menjadi bagian dari identitas masyarakat Maumere, memperkuat hubungan antara tradisi maritim suku Bajo dan kehidupan kota. 

Pasar Wuring adalah gambaran bagaimana sebuah ruang ekonomi masyarakat bisa menjadi ikon budaya. Penutupannya menjadi tanda pergeseran dari ruang ekonomi masyarakat berbasis budaya ke sistem pasar pemerintah yang fungsinya tidak selalu bisa memenuhi cara hidup masyarakat.

Di akhir pertemuan singkat kami sore itu Mama Hastira menitip pesan, “Nanti bawakan daun pisang e untuk lebaran.” 

Iye, pasti mama,” jawab saya.

Sebagaimana biasanya sejak bertemu dengan keluarga Mama Hastira, setiap tahun saya akan datang dua hari sebelum lebaran, mengantar daun pisang untuk dibuat buras dan gogos. Semacam sistem barter, saya membawa daun pisang dari kebun dan mama akan suguhkan makanan dari laut. 

Tentu saja kami tidak sedang melakukan transaksi ekonomi dengan sistem barter, tetapi sedang bersilaturahmi, merayakan lebaran di kampung Wuring.

1 1 vote
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
LOADING...
klik untuk info siaran dan live chat

Loading Time...

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x