Eka Putra Nggalu
Suatu waktu, ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, Mama pernah begitu marah pada saya. Pasalnya, di suatu sore ketika ia sedang mengurus tanaman di halaman, seorang anak laki-laki usia SD datang ke rumah dengan sepeda. Kepada Mama, anak laki-laki itu sodorkan daftar bon (utang) yang lumayan panjang. Daftar bon itu dibuat seseorang yang kerap kami sapa ‘Oma’, pemilik Kios Pojok yang terletak di salah satu sudut terminal Lokaria. Nama berikut tanda tangan saya tertulis di baris paling bawah daftar bon tersebut.
Mama tertegun, antara takjub atau marah, membayangkan anak laki-lakinya yang baru SMP sudah belajar utang. Utangnya pun tidak sedikit, lebih dari seratus lima puluh ribu rupiah. Angka yang terbilang besar di masa itu. Meski agak kesal, Mama tetap saja membayarnya, dan sepanjang sisa hari, saya dimarahi habis-habisan. Ia tak habis pikir kenapa saya berutang banyak sekali untuk sesuatu yang konyol: pisang goreng.
Pisang goreng Kios Pojok di terminal Lokaria adalah sebuah keajaiban. Saya tidak berlebihan. Jika di antara teman-teman pembaca ada yang pernah mencicipi rasanya, kalian pasti setuju.
Pisang goreng kios pojok adalah perpaduan rasa pisang kepok (Musa paradisiaca L.) matang yang manis, dibalut adonan terigu yang ditaburi garam atau mungkin lada putih yang digoreng dengan minyak kelapa atau minyak bekas gorengan ikan, entahlah. Manis dan gurih sekali. Umami, kalau kata juri masterchef. Kala itu, sekitar awal 2000-an, satu porsi pisang goreng Kios Pojok bisa ditebus dengan harga lima ratus rupiah. Ukuran satu porsinya pun agak unik, yaitu sepiring kecil dan amat bergantung pada ‘cedokan’ Oma penjualnya. Biasanya, untuk satu porsi, kami akan makan berempat atau berlima, antar sesama teman SMP.
Pisang goreng Kios Pojok tidak bisa dimakan sendirian. Ia harus ditemani sambal dan es sirup jeruk khas Kios Pojok. Seumur hidup, saya tak pernah menemukan kembali rasa sambal dan es jeruk yang sama dengan yang pernah saya alami di kios ini. Sambalnya tidak diblender, tetapi diulek nyaris sempurna, memadukan lombok kecil-kecil khas Maumere (lombok padi), tomat cherry, bawang merah, bawang putih dan kadang ditumis dengan minyak kelapa. Aroma sambalnya sungguh membekas di memori saya.
Sebenarnya, bahan dasar es jeruk Kios Pojok amat familiar: orson. Namun, Si Oma menambahkan, mungkin perasan jeruk nipis. Sesekali ada daun mint atau mungkin bahan lain yang bikin setiap sedotannya begitu menyegarkan, seperti Sprite dengan sensasi baru selesai cebur badan siang-siang di laut Flores. Es jeruk ini dihargai 300 sampai 500 rupiah waktu itu, tergantung apakah pakai gelas besar atau gelas yang lebih kecil.
Kami, saya dan teman-teman SMP, mesti berlomba-lomba dengan para pengguna terminal, khususnya warga dari arah timur dan terutama sopir-sopir juga konjak-konjak (begitu orang Maumere menyebut para kondektur) tatkala berburu menu-menu spesial Kios Pojok. Kami biasanya mampir di Kios Pojok setiap pulang dari sekolah.
Bersekolah di kota Maumere, kami harus naik angkot jurusan terminal Lokaria dan turun di sana. Terminal Lokaria kala itu menjadi satu-satunya terminal penghubung warga Maumere di bagian timur yang ingin beraktivitas di kota, mulai dari berdagang dan berbelanja di pasar alok atau pertokoan, berobat atau menjaga kerabat yang sakit di rumah sakit, mengambil dana pensiun, makan bakso Malvinas yang terkenal, hingga kirim surat atau telegram buat saudara di Nunukan, Batam, Tanjung Selor, Samarinda, Sabah, atau daerah perantauan lainnya.
Sebagai sebuah ruang transit, terminal Lokaria amat ramai, satu dari beberapa titik keramaian penting di Maumere pada masanya.
Demikianlah, ketika tiba di terminal Lokaria saban pulang sekolah, kami tak enggan menuju Kios Pojok. Deretan kursi-kursi kayu panjang, beberapa kursi bakso, dan meja dengan permukaan tripleks biru yang mengkilap selalu berusaha ditata rapi, meski tetap saja akan terlihat chaos ketika ruangan kios yang kecil itu dipadati pengunjung. Ada sekitar delapan meja yang memenuhi ruangan berukuran kurang dari 4×6 meter. Satu meja bisa memuat empat sampai enam orang. Hanya ada satu pintu keluar-masuk untuk para pembeli, dengan jendela besar yang selalu terbuka menghadap ke jalan. Setiap kali keluar masuk, para pelanggan harus saling mengantre. Tak jarang kami harus berdesak-desakan dengan pelanggan lain demi merebut kursi. Beberapa pelanggan yang sudah mabuk kadang kala berkelahi dengan pelanggan lain (biasanya sudah saling kenal) hanya gara-gara tak kebagian tempat duduk.
Kami biasa mengambil tempat duduk yang paling dekat dengan rak-rak kaca berisi bahan makanan yang dijual. Selain pisang goreng, etalase kaca itu tentu saja dipercantik oleh deretan ikan goreng dan mie campur sawi, kondimen utama menu nasi ikan. Ada juga soto sapi yang selalu habis setiap harinya.
Kami tentu saja tidak sedang mengincar dua menu itu. Tujuan kami duduk dekat etalase makanan adalah agar kami mudah dilayani, atau bisa menyerobot dan mengambil pesanan kami sendiri. Oma penjual sudah paham kelakuan kami. Sebab kebanyakan dari kami adalah anak kompleks yang tinggal di sekitaran Lokaria, ia lebih sering membiarkan kami melayani diri sendiri, tak peduli di beberapa kesempatan kami malah mengambil lebih banyak daripada yang kami bayar.
Suatu kali, seorang konjak, kira-kira seusia SMA, berambut keriting dicat kuning dengan O2, mengadukan hal itu ke Oma. Ia cemburu ketika melihat kami ambil lebih banyak pisang goreng dan menghabiskan semangkuk sambal tetapi hanya membayar lima ribu rupiah. Alih-alih memarahi kami, Oma malah menambahkan beberapa potong pisang goreng ke piringnya sambil mengejek dengan sisa-sisa logat Jawanya, “sudah besar kok suka merajuk.” Sontak semua pelanggan tertawa riuh, khas suasana Kios Pojok. Konjak itu diejek habis-habisan oleh teman-temannya.
Keakraban antar pelanggan jadi satu hal yang buat pengalaman tentang Kios Pojok terasa berbeda. Meski tak semuanya saling kenal, para pelanggan kios ini pasti saling ‘tahu muka’ dan selalu menyapa satu sama lain. Kami bahkan sudah tahu, hanya dengan melihat komposisi orang-orangnya, meja mana yang akan membahas pesta, meja mana yang akan membahas judi, dan meja mana yang akan membahas cewek-cewek, mulai dari anak SMA hingga bidan desa. Kala itu kami lebih suka membahas sepak bola atau balap motor dengan tokoh utama Pastilo, Rudi Lameng, atau teman kelas kami, Vian Parera. Siang di Kios Pojok adalah perpaduan ragam cerita, bau keringat orang-orang, dan aroma sedap masakan.
Kios Pojok hanya salah satu unit kecil dari ragam ruang yang tercipta di sekitaran terminal Lokaria. Terminal ini dibangun pada periode 1988-1989 dan mulai beroperasi di awal 1990.
Seiring waktu, ia berkembang tidak hanya sebagai tempat transit penumpang dari luar kota ke dalam kota Maumere tetapi juga situs ekonomi yang penting. Ada banyak kios dan warung makan yang didirikan di sekeliling ruang tunggu dan kantor terminal. Mulai dari yang menjual kebutuhan-kebutuhan pokok, warung makan (bakso, es, nasi), hingga usaha penggilingan padi, jagung, kopi, dan toko-toko pakan ternak.
Di beberapa sisi, kita dengan mudah bisa menjumpai deretan bapa-mama dari Habi, Hubing, Wolomude, Wetakara, dan kampung-kampung sekitarnya menjajakan jualan, mulai dari sayur daun ubi, motong (kelor), kenona, jagung, kacang-kacangan, dan banyak lainnya. Om Tamberang bersama teman-temannya yang menjual ikan, baik dari hasil tangkapan maupun dibeli dari papalele lainnya, menempati satu deretan strategis di pertigaan jalan.
Terminal Lokaria juga menjadi situs hiburan yang menarik. Di beberapa titik, dibuka usaha meja biliar. Seingat saya, sedikitnya ada dua tempat biliar di terminal Lokaria. Satu di dalam area terminal punya Om Sepi dan yang lain milik Om Yan di pinggir jalan, sisi barat pertigaan yang salah satu ruasnya adalah jalur keluar terminal. Kondektur dan sopir yang sedang beristirahat biasanya menghabiskan waktu di sini, berbagi meja dengan beberapa ‘anak nongkrong’, ojek, hingga anak-anak SMA.
Oh iya, setiap terminal tentu punya ‘anak nongkrongnya’. Di terminal Lokaria, Kaka Israel jelas salah satu yang terkenal karena tendangan baliknya mirip Bruce Lee dan ia jadi striker El Miorita FC, klub sepak bola dari area Lokaria sampai Wairhubing dan Habi. Sampai sekarang, kami tak pernah bertanya kenapa namanya Israel. Yang kami tahu, dia adalah salah satu jagoan terminal, di samping Kaka Sumanto dan Kaka Hanit. Belakangan, di era kami, generasi yang lebih muda, muncul istilah Anterlok; Anak Terminal Lokaria. Kehadiran anak-anak nongkrong menjamin keamanan setempat bila terjadi kerusuhan. Jika tidak di tempat biliar, biasanya mereka duduk di bundaran kecil yang menandai pertigaan dan membagi jalur keluar dan masuk terminal. Kehadiran mereka selalu penuh lelucon dan tentu saja moke. Cara mereka membangun pertemanan sulit dijelaskan karena sering melibatkan kenakalan-kenakalan yang tak masuk akal. Paling tidak, begitu yang saya lihat dari Kaka Israel dan kawan-kawannya dahulu.
Lanjut soal biliar. Suasana biliar biasanya akan ramai ketika hari menjelang malam. Tambah ramai jika permainannya melibatkan sisa-sisa perselisihan di jalan atau tenda pesta dan menjadi lengkap ketika sudah ada moke. Moke dijual bebas oleh bapa dan mama hampir sepanjang pinggir ruas jalan terminal.
Moke putih, sari lontar yang belum disuling biasanya ditambahkan bawang merah dan sedikit lada, dijaja keliling seharga seribu hingga tiga ribu rupiah untuk tiap gelas kecil. Penjaja moke putih biasanya menjinjing dua ember berpenutup yang diikat di sebuah bilah bambu atau dahan kelapa. Sebuah gelas plastik kecil terikat langsung di tangkai ember biar tidak lepas dan bisa dengan mudah digunakan. Tidak heran, moke terlibat dalam banyak hal, termasuk saat main biliar.
Suatu waktu, sebagai anak SMP yang ingin tahu, saya dan beberapa teman mampir ke biliar Om Yan. Baru sampai di depan pintu biliar, kami langsung disergap oleh seorang ‘kakak-kakak’ di kompleks. Katanya kami masih ‘anak kecil’, tidak boleh masuk. Dibela ‘kakak-kakak’ kompleks lain yang lebih berpengaruh, kami akhirnya boleh menonton pertandingan biliar antar pasangan sopir konjak. Ketika masuk ruangan biliar, aroma rokok dan moke yang kental menyeruak seperti meliputi seluruh ruangan, bikin kami sejak awal awas.
Tidak sampai sepuluh menit bermain, kedua pasangan yang bertanding sudah berkelahi. Diawali aksi protes dengan suara yang menggelegar, diikuti dengan satu dua caci maki, tendangan hingga pukulan yang membuat seisi ruangan harus terlibat, dan diakhiri dengan peleraian oleh geng setempat. Begitu kemudian kami membaca polanya.
Kaka Israel tentu saja menjadi penengah dari perkelahian yang terjadi. Kami, yang tak tahu aturan biliar, sampai hari ini tak benar-benar paham sebab apa perkelahian itu. Beberapa waktu setelahnya, di Kios Pojok, kami dengar bisik-bisik kalau masalah sesungguhnya adalah perihal perebutan penumpang, geng cewek-cewek SMA yang satu diantaranya sama-sama ditaksir kedua sopir. Sebagai asisten, masing-masing konjak tentu butuh turun tangan membantu bosnya.
Selain biliar, ada juga rental CD milik Kaka Supardi yang menyediakan serial Rambo dan beberapa film kung fu, tayangan yang amat digemari kala itu. Film-film pendekar Barry Prima maupun hantu Suzana juga bisa kami dapatkan di rental ini. Biasanya, kami saling pot, mengumpulkan sejumlah uang untuk pinjam dan rame-rame menonton film pilihan suara terbanyak. Pernah, atas usulan seorang kawan yang baru saja pindah dari Larantuka, kami meminjam film semi (semi-pornografi), dan menonton berjamaah. Seru sekali.
Kami sering kesal karena beberapa film yang kami pinjam tidak bisa diputar menyeluruh. Permukaan kepingan CD-nya lecet. Sudah diberi uap nafas, air liur, minyak kayu putih, hingga handbody tetapi tetap sama saja. Meski kesal, sampai rental itu tutup, kami senantiasa menjadi pelanggan setia karena rental Kaka Supardi adalah satu-satunya yang bisa kami akses hanya dengan berjalan kaki.
Oma Kios Pojok meninggal tahun 2008 ketika saya sudah masuk asrama seminari di Bajawa. Setelah beliau meninggal, Kios Pojok masih buka beberapa saat meski pelan-pelan mulai meredup seiring sepinya terminal. Oto-oto bemo (angkot) mulai kurang diminati. Ia tak lagi jadi trend setter, distributor musik anak-anak gaul kota Maumere. Kehadirannya mulai kalah dari ojek atau motor-motor pribadi. Kini, penampakan terminal Lokaria seperti sebuah situs tua yang ditinggalkan. Tak ada lagi riuh suara orang berdebat dari ruang biliar. Tak lagi ada suara para konjak berebut penumpang. Atau suara mama dan bapa yang menawarkan jualan.
Untuk menggarap tulisan ini, saya coba mencari-cari di internet sejarah maupun ulasan mengenai terminal Lokaria. Tidak banyak yang saya temukan, entah tulisan entah foto. Terminal Lokaria mungkin tak sepopuler pelabuhan Sadang Bui, tak sefenomenal masjid apung Kampung Wuring jika sebab logika pengarsipan media sosial kita berlandaskan pada viralitas dan mungkin eksotisme.
Dari lapang ketiadaan, cuma ada satu artikel jurnal yang ditulis oleh beberapa dosen Universitas Nusa Cendana. Sekilas terlihat meyakinkan. Namun, setelah dibaca lebih jauh, kajiannya bersifat normatif belaka. Maksud saya, tidak ada salahnya membuat penelitian mengenai fasilitas, area parkir, kebersihan, atau hal-hal lain terkait infrastruktur dan operasional terminal yang jauh dari ideal. Namun, jika penelitian tersebut dilakukan tahun 2020, itu sama sekali tidak menjawab persoalan yang amat mendasar, mengapa terminal Lokaria tidak lagi seriuh dua hingga tiga dekade silam?
Tentu saja, situasi terminal yang kian sepi tidak hanya terjadi di Lokaria. Lokaria hanya satu fenomena yang menunjuk adanya perkembangan karakter urban yang amat signifikan terjadi di banyak lokasi budaya di Indonesia. Tata ruang publik yang berkembang ke arah pinggiran turut menggeser signifikansi terminal yang awalnya dibangun di batas pusat-pusat kota.
Selain itu, banyaknya kendaraan pribadi yang bermunculan, termasuk ojek dan transportasi online mengubah pola kolektif yang selama ini berlangsung menjadi semakin individual. Terminal yang dulunya jadi titik kumpul bagi aktivitas perjalanan yang dilakukan secara kolektif tidak lagi penting sebab aktivitas perjalanan menjadi semakin individual dan bisa terjadi secara langsung dari titik A ke titik B tanpa melalui terminal.
Modernitas yang mengedepankan efektivitas dan efisiensi jaringan memutus keberlangsungan repertoar berkumpul di terminal serta seluruh unit-unit peristiwanya. Orang tak lagi butuh tunggu berlama-lama untuk mengakses angkot berikutnya, sambil makan bakso, melihat-lihat jualan bapa dan mama, atau meminjam CD di rental Kaka Supardi.
Duduk nongkrong di terminal bukan lagi keasyikan atau jalan mencari informasi dan memperluas pertemanan tetapi tanda kemalasan atau tak punya kerjaan. Kios Pojok tak lagi ada dan dengan begitu, hilang juga ritual makan pisang goreng dan es sirup rasa jeruk saban siang sepulang sekolah. Biliar Om Yan berubah rupa jadi kios Makassar yang beroperasi 24 jam. Titik kumpul anak muda bergeser ke cafe-cafe atau warung kopi yang pelan tetapi pasti menjamuri kota.
Meski terminal sudah sepi dan hampir semua hal darinya telah berubah, Om Tamberang masih menjual ikan di pertigaan depan terminal, bersama istrinya yang saban pagi menjaja nasi kuning dengan lauk kembung goreng balik tomat, mie dan sambal. Kaka Israel tak lagi jadi geng terminal. Ia membeli mobil pick up dan bekerja mengangkut material. Di kalangan anak-anak sekarang, sosoknya berubah mitos tetapi kehadirannya entah mengapa membuat kami merasa aman.
Berhadapan dengan modernitas, kuasa arsip yang tak selalu tersedia, sepertinya kita masih bisa berpegang pada sisa-sisa, endapan, riuh kisah terminal Lokaria yang menubuh di masih banyak orang lain selain Om Tamberang, Kaka Israel, atau saya yang menulis kisah ini. Dari sana, mungkin kita bisa membayangkan ragam tapak-tapak masa depan.
Tulisan yang luar biasa, Mbull. Senang bisa baca2 tulisan teman KAHE.
Mantap nostalgianya abang. Aer mata tumpa ingat oma tersayang. Epang gawan
Sya sendiri senyum sampai ketawa saat baca tulisan ini. Ajari saya cara tulis begini dlu Aton. Heheheheh…
Hormat kaka Israel. 😎