Keeryn De Gerald
Kehadiran komunitas Shore di Maumere ibarat oase di tengah padang gurun. Saat ajaran-ajaran gereja Katolik mulai terasa kering dan kaku untuk bisa diresapi dalam kehidupan anak muda zaman sekarang, komunitas Shore justru hadir melegakan dahaga, membuatnya menjadi lebih segar, relevan, dan kontekstual.
Perbincangan kami dengan Astin Sofiana dan Alfriedo Kekang di kedai kopi Lamaffa, Sabtu, 18 April 2026, sedikit–banyak mengungkap kiprah komunitas Shore yang mulai menarik perhatian orang muda katolik (OMK) dari Generasi Z dan Alpha.
Sejak kemunculannya pada Februari 2026, komunitas Shore ingin menjadi wadah yang mampu merangkul anak-anak muda di Maumere untuk mencintai dan mendalami kitab suci, menjadi sarana evangelisasi digital, menjadi sumber informasi rohani yang relevan bagi anak muda, menciptakan ruang diskusi yang sehat, menginspirasi anak muda untuk bertumbuh dalam iman dan pelayanan dan menjadikan iman Katolik relatable dengan kehidupan anak muda sehari-hari.
Pemilihan nama “Shore” pun tidak terjadi begitu saja. Melalui proses panjang dan diskusi bersama, para anggota akhirnya sepakat pada kata yang berasal dari bahasa Ibrani, Shores, yang berarti “akar.”
Nama ini menjadi penegas arah tujuan komunitas. Shore adalah komunitas anak muda yang ingin tetap berakar pada Kristus di tengah perubahan dan kegelisahan zaman. Shore bukan sekadar komunitas, “Ini ruang untuk jiwa yang rindu dikuatkan. Tempat doa dipanjatkan, iman diteguhkan, dan kasih dibagikan tanpa batas.”
Sosok penting di balik nama ini adalah Berno Lando atau akrab disapa Ka Berno, yang kini menjadi ketua komunitas.
Astin dan Alfriedo mengisahkan, bagaimana sebagian anak muda mulai merasa tidak lagi menemukan ruang yang cukup relevan dalam dinamika komunitas OMK, khususnya di Maumere. Bukan karena mereka ingin menjauh dari gereja, melainkan karena ada jarak yang sulit dijelaskan—antara struktur yang ada dan kebutuhan mereka untuk bertumbuh secara lebih bebas.
“Ada banyak batasan. Kadang kita ingin mencoba sesuatu yang baru, tapi seperti sudah ada garis yang tidak boleh dilewati,” ujar Astin.
Dalam percakapan itu, muncul satu ungkapan yang terdengar paradoksal tetapi jujur: Gereja masa kini adalah gereja orang muda, tetapi sering kali orang-orang yang mengatakan hal itu adalah orang-orang yang sama yang justru membatasi kreativitas anak muda.
Kalimat ini bukan sekadar kritik, melainkan cerminan pengalaman yang dirasakan banyak dari mereka; tentang jarak antara yang ideal dan realitas, antara harapan akan ruang yang hidup dan kenyataan yang masih terasa sempit.
Namun, alih-alih memilih pergi, mereka justru mencari cara lain untuk tetap tinggal. Dari situlah Shore lahir sebagai ruang alternatif yang coba membuka kemungkinan baru.
Langkah awal komunitas ini sangat sederhana. Mereka memulai dengan Lectio Divina, sebuah praktik doa dalam tradisi Katolik yang mengajak seseorang membaca dan merenungkan Kitab Suci secara perlahan dan mendalam.
Lectio Divina pertama dilakukan di Biara Karmel, Nita. Sebuah permulaan yang hening, tetapi kemudian membuat mereka terus bertumbuh. Dalam proses membaca, merenung, berdoa, dan berdiam, sabda Tuhan tidak hanya dipahami sebagai teks, tetapi dihayati sebagai pengalaman yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Bagi komunitas Shore, Lectio Divina menjadi ruang untuk mendengarkan Tuhan sekaligus mendengarkan pergulatan batin satu sama lain.
Seiring waktu, pertemuan-pertemuan itu berkembang menjadi ruang berbagi yang lebih dalam. Para peserta tidak hanya berbicara tentang teks, tetapi juga tentang hidup mereka sendiri—tentang luka, kegagalan, kelelahan, bahkan keraguan terhadap Tuhan.
Alfriedo menekankan bahwa suasana tanpa penghakiman menjadi kunci.
“Yang datang bisa cerita apa saja. Tidak ada yang dipotong, tidak ada yang langsung dinasihati,” katanya.
Dalam beberapa kesempatan, peserta yang awalnya hanya ingin hadir justru membuka pengalaman paling personal, bahkan hingga menitihkan airmata. Respons yang muncul bukanlah jawaban instan, melainkan kehadiran—hal yang bagi banyak orang terasa jauh lebih berarti.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara generasi muda memaknai iman. Apa yang dilakukan komunitas Shore dapat dibaca sebagai bagian dari proses mulai mempertanyakan dan menegosiasikannya. Iman tidak ditinggalkan, melainkan dicari ulang dengan cara yang lebih personal.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar pun muncul dalam diskusi mereka; mulai dari pengalaman doa yang terasa tidak terjawab hingga kesulitan memahami ajaran iman secara rasional. Namun di dalam komunitas ini, keraguan tidak dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari perjalanan bersama.
“Kadang jawabannya justru datang dari cerita orang lain,” ujar Alfriedo menggambarkan bagaimana pengalaman kolektif menjadi sumber penggalian makna.
Dalam ruang seperti itu, kebenaran tidak dipaksakan dari atas, melainkan lahir dari percakapan yang terbuka. Shore berupaya menghadirkan bentuk komunikasi semacam ini—sesuatu yang menurut mereka masih jarang ditemukan dalam struktur formal gereja.
Selain kegiatan reflektif melalui Lectio Divina, komunitas ini juga mengembangkan diskusi publik lewat program “Sore Talks.” Topik yang diangkat berkisar pada pengalaman iman sehari-hari hingga isu sosial yang dekat dengan kehidupan anak muda Maumere.
Di masa mendatang, mereka juga merencanakan program retret bagi orang muda sebagai ruang pendalaman yang lebih intens. Upaya ini menunjukkan bahwa bagi mereka iman tidak berhenti pada ruang privat, tetapi juga perlu berdialog dengan realitas yang lebih luas.
Astin dan Alfriedo menyebut kehadiran Shore justru mendapat respons positif dari beberapa pihak gereja. Bahkan, ruang untuk berkolaborasi mulai terbuka. Meski demikian, mereka tetap menyoroti sejumlah tantangan, seperti gaya komunikasi yang dianggap terlalu kaku dan struktur birokrasi yang dinilai menghambat gerak anak muda.
Bagi komunitas Shore, membangun ruang baru tidak berarti keluar dari gereja, melainkan menemukan cara lain untuk tetap bertumbuh di dalamnya. Mereka tetap berangkat dari kitab suci, tetap berada dalam tradisi, tetapi dengan pendekatan yang lebih dialogis dan kontekstual.
Satu hal menjadi jelas. Komunitas ini bukan sekadar wadah anak muda berkegiatan, tetapi tanggapan atas kebutuhan hidup yang nyata.
Di tengah perubahan sosial dan kompleksitas hidup, banyak orang muda tidak hanya mencari jawaban, tetapi mereka juga mencari ruang inklusif untuk didengar.
Di antara suara musik yang beradu dan langkah pengunjung yang mulai berkurang di kedai kopi Lamaffa, pernyataan itu menggantung sejenak. Sebuah pengingat bahwa di balik dinamika komunitas kecil ini, terselip cerita yang lebih besar, bahwa ada generasi yang enggan mempertahankan imannya secara kosong.