Perihal Karya, Knife & The Sunflower Lebih Percaya Takdir 

Oleh: Ricko Wawo

Nama grup musik Knife & The Sunflower mungkin saja hilang muncul di telinga para penggemarnya. Akan tetapi, Ricky Alvino, sang frontman, tetap memastikan panji grup musik ini tetap berkibar di belantika musik Nian Tana Sikka. 

Terbentuk pada tahun 2019 sebelum pagebluk Covid-19, Knife & The Sunflower awalnya merupakan sebuah projek musik pribadi Ricky Alvino. Projek ini lalu melibatkan kawan-kawan seperjuangannya di Maumere. 

Kala itu, alih-alih mendendangkan lagu-lagu yang sudah hits di panggung, Ricky mulai berani menyanyikan lagu ciptaan sendiri atau lagu karya teman sejawatnya, baik dalam format solo maupun band. Publik menyambut inisiatif ini dengan positif dan antusias.

Bongkar pasang line up terjadi seiring berjalannya waktu. Martin Lengari, salah satu gitaris berbakat, meninggal dunia karena sakit. Sandro Renggo pergi merantau. Om Rio dan Ari Simon membentuk Pon Daisy bersama Obedo. Rillo Nidi, Arnold Sedo, dan Rendy Bogar pernah membantu sebagai additional player. Kontribusi kreatif mereka turut membantu tumbuh kembang Knife & The Sunflower, yang sekarang menyisakan Billy May (keyboard) dan Ricky Alvino (vokal, gitar). 

Pada 4 Juni 2026, duo musisi ini sukses merilis single berjudul “Aku Padamu,” tembang indah dari sepenggal puisi karya penyair Maria Yuniarta. Sekarang keduanya kembali sibuk bekerja di studio rekaman—mengaransemen “Hey Girl.” Lagu ini akan menjadi rekaman studio kedua Knife & The Sunflower. 

“Hey Girl” diciptakan oleh Rendy Bogar, gitaris band reggae, Postman. Belum ada kepastian kapan lagu ini akan resmi dirilis. Ricky hanya memastikan komposisi lagu ini tetap organik, aransemennya tidak rumit, dan yang pasti dikerjakan dengan sepenuh hati untuk hasil yang maksimal.

“Ini sebenarnya lagu galau yang dikemas dengan lirik yang berisi kejujuran seorang laki-laki akan masa lalu yang sudah lewat dan itu menunjukkan sisi kedewasaan dari lagu ini,” ungkap Ricky dalam perbincangan dengan after7pm.com, Jumat, 18 September 2026.

Lebih jauh, kesibukannya sebagai penyanyi solo dan penggebuk drum MoodBreaker rupanya turut memengaruhi jadwal rekaman Knife & The Sunflower. Namun itu bukan alasan band pop alternatif ini untuk gulung tikar. Justru pada Knife & The Sunflower-lah tersimpan mimpi dan harapan seorang seniman yang berkarya.

Jika sebuah pertanyaan eksistensial diajukan, “Mengapa band ini masih terus ada?” maka Ricky akan langsung menjawabnya tegas, “Karena kegelisahan akan hidup. Kita hidup untuk apa? Mati juga mau kasi tinggal apa? Ada banyak kegelisahan yang belum bisa disuarakan.” 

Gairah sejenis ini membuat Knife & The Sunflower menolak terikat pada satu genre tertentu. Mereka ingin mengeksplor banyak ragam kemungkinan. Tidak hanya nuansa pop yang sudah ditampilkan di atas panggung, pernah juga mereka bereksperimen dengan musik tradisi, rock, grunge, dan folk.  

Dari sang legenda, Black Finit, Ricky kemudian belajar arti kebebasan dalam bermusik. Black Finit menciptakan lagu berjudul “Tana” yang  memakai chord tunggal atau hanya satu chord dari awal sampai akhir lagu. Ricky memaknainya sebagai kebebasan untuk mengekspresikan diri walau hanya memakai satu chord.

Sang legenda kini telah pergi meninggalkan deretan karya yang abadi. Sedangkan, jejak Knife & The Sunflower masih belum usai.

In this economy, kegelisahan, gairah, dan kebebasan saja tidak cukup mujarab menopang kehidupan seorang musisi di sebuah kota kecil. Perlu siasat ekonomi subsisten yang lincah. 

Ricky dan Billy sudah memutar otak. Penghasilan sebagai pemusik di panggung-panggung lain disisihkan juga untuk “uang rokok” produser rekaman, videografer, dan pemusik yang membantu Knife & The Sunflower. Kalau mau ekosistem kreatif di Maumere tetap sintas, siasat semacam ini penting diterapkan meski dalam skala kecil. 

Demikianlah musisi berusia 31 tahun ini mengakui, “Setidaknya beberapa bulan terakhir bisa bayar kos dari jualan merchendise juga.” 

Bicara soal karya, mereka tak ingin menjadikannya beban di pundak. Lagipula kesibukan para personel pun tak terhindar. 

Beberapa karya juga sering dibawakan saat tampil live dan sudah masuk dalam katalog karya sejak 2019, termasuk nomor andalan dari puisi Ragil Sukriwul yang digarap jadi lagu oleh Dede Aton, “Hujan Gerbang Stadion.”

Lagu-lagu itu seperti menunggu takdir. Semuanya dibiarkan mengalir seperti air. 

Layaknya keyakinan para sufi, Ricky menyebut sebentuk optimisme yang bersandar pada kepercayaan bahwa bisikan semesta memang misterius, juga paradoks. 

“Kalau takdir berkata sudah saatnya rilis lagu, maka terjadilah!”

0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Yiska Yuliani
Yiska Yuliani
5 Oktober 2026 2:24 pm

Sukak ❤️ Sukses trus kk ku

Putera Deim
Putera Deim
5 Oktober 2026 7:08 pm

Gas kann

LOADING...
klik untuk info siaran dan live chat

Loading Time...

Terima kasih atas dukungan Anda! Setiap kontribusi sangat berarti bagi kami untuk terus berkarya. Kami menghargai setiap kopi yang Anda belikan. ♥

Iin sina 16 Sep 2026
Pius angelo oktaviani dato

Kahe tetap jaya

27 Jul 2026
Mr. Nobody

Selamat Bertugas Noizer!!!

24 Mar 2026

Dukung Kami

Transfer ke salah satu rekening berikut:

BRI 011901054069504 a.n. Maria Apriani Kartika Solapung

* Sertakan nama rekening yang Anda gunakan saat transfer.

2
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x