Merajut Kembali Keceriaan Anak-anak di Maumere Melalui Permainan Rakyat

Intan Nuka

Suasana gembira penuh gelak tawa dan teriakan nyaring anak-anak yang saling bersahutan menggema di halaman Pusat Jajanan dan Cenderamata (PJC), Kota Maumere, pada Jumat, 23 Oktober 2026. 

Senyum merekah ketika mereka saling melempar gasing di tanah dan mencoba menyeimbangkan diri di atas egrang batok kelapa atau egrang bambu. Di panggung, anak-anak duduk berhadapan sambil bermain congklak.

Sebanyak 240 siswa dari 12 sekolah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti rangkaian kegiatan trauma healing pascagempa bumi yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan didukung oleh Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) dan Pemerintah Kabupaten Sikka. 

Acara yang diberi nama “Laba Limang: Bahagia Bersama Anak Nian Tana Sikka” itu menyajikan sembilan permainan rakyat, yakni tali merdeka (lompat tali karet), congklak, egrang bambu, egrang batok kelapa, laba limang (gotong tandu siku), gasing, gala asin (saling hadang menjaga benteng), engklek, dan tumbu blanga.

Laba Limang adalah salah satu jenis permainan rakyat masyarakat di Kabupaten Sikka. Selain Laba Limang, permainan ini juga disebut Padaleda/Suster Wa’in(g) Boga. Permainan ini melibatkan dua sampai empat orang anak. Dua orang akan saling berpegangan tangan membentuk tandu (laba limang) dalam posisi jongkok dan seorang anak akan ditandu sambil bernyanyi; suster wa’in(g) boga atau padaleda.

“Senang sekali karena kami bisa bermain permainan yang ditinggalkan dan menjalin keakraban dengan sesama teman yang lain,” kata Yohana Ani Koten, siswi kelas IX SMP Bina Wirawan. Ia pun terlihat asyik bermain engklek (sengge) dan egrang bersama teman-temannya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud RI, Judi Wahyudin, menjelaskan bahwa permainan rakyat dan olahraga tradisional merupakan dua dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. 

Di NTT sendiri, katanya, telah terdata 162 permainan rakyat yang dapat menjadi aset untuk dioptimalkan dalam berbagai kegiatan di sekolah. Menurutnya, permainan rakyat itu bukan sekadar gerak, melainkan ada peran olah rasa dan olah pikir yang berkontribusi untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak yang memainkannya.

Lebih lanjut, di tengah situasi bencana pascagempa ini, ia menilai kegiatan trauma healing dapat menjadi momen untuk menguatkan para siswa. Ia pun menyampaikan keprihatinan atas bencana alam yang terjadi dan berharap agar para siswa dan keluarga diberi ketabahan untuk melalui proses tersebut.

“Harapan kami, dengan sajian laba limang dan jenis permainan lainnya, mudah-mudahan adik-adik bisa semangat lagi, saling menguatkan kembali, dan bekerja sama melalui permainan tradisional ini,” katanya.

Sementara itu, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pemangku kepentingan dari daerah hingga pusat yang tidak pernah meninggalkan masyarakat Kabupaten Sikka sendirian dalam situasi setelah gempa pada 15 Agustus 2026.

Ia pun mengapresiasi kerja-kerja KPOTI dan sinergi bersama pemerintah pusat dan daerah sehingga menghadirkan kegiatan bermain bersama anak-anak. Menurutnya, aktivitas bermain anak-anak saat ini didominasi oleh gawai. Padahal, sebelum ada gawai, anak-anak generasi sebelumnya justru menghabiskan banyak waktu di luar rumah untuk bermain permainan rakyat. Oleh karena itu, upaya menghadirkan permainan rakyat ini menjadi salah satu cara untuk meminimalisasi penggunaan gawai yang berlebihan saat ini. Ia pun berharap anak-anak dapat bermain dengan riang dan gembira pascagempa.

“Olahraga ini lebih sehat, kuat, melatih kelincahan, kecerdasan, kepintaran. Ini sangat bermanfaat,” ucapnya, menegaskan.

Selama lebih kurang dua jam, para siswa bermain dengan riang gembira. Sesekali para guru pembina juga ikut nimbrung dan mengenang kembali masa-masa sekolah dulu. Di antara kerumunan murid, tampak Bernadetha Nona Ida, guru yang membawa 20 siswa dari SDI Misir. 

Pandangannya tak berpaling dari anak didiknya yang sedang menikmati permainan. Dalam kesempatan itu, Bernadetha merasa bersyukur murid-muridnya bisa terlibat dalam kegiatan trauma healing ini. Menurutnya, permainan-permainan ini berhasil mengalihkan perhatian anak-anak dari ponsel dan menjadi motivasi agar mereka tidak lagi menghabiskan waktu dengan bermain ponsel.

“Mereka senang sekali. Mungkin kami ke depan di sekolah bisa buat permainan tradisional lagi, masukkan ke dalam program ekstrakurikuler,” ucapnya.

Ketua KPOTI NTT, Sandro Wangak, menyebutkan bahwa permainan-permainan rakyat tak hanya melatih kreativitas dan ketangkasan, tetapi juga sarat akan nilai-nilai hidup seperti sportivitas, solidaritas, semangat gotong royong, dan kejujuran.

Berbeda dengan gim-gim populer dalam gawai yang cenderung individualistik, permainan-permainan rakyat justru menuntut anak-anak bersosialisasi dengan rekan sepermainan setiap saat. Dengan demikian, kepekaan emosional dan kecerdasan sosial bisa langsung dilatih dalam permainan. 

“Di tengah situasi pascabencana, kami juga berharap permainan-permainan rakyat ini bisa merajut kembali keceriaan mereka sehari-hari,” ucap Sandro.

Pada kesempatan itu, Judi Wahyudin menyerahkan secara simbolis tas dan peralatan sekolah kepada Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, sebagai bentuk tanggung jawab sosial dari Kementerian Kebudayaan untuk anak-anak penyintas gempa bumi di Pulau Palue. 

Pulau Palue merupakan pulau terluar di Kabupaten Sikka yang cukup parah terdampak gempa bumi berkekuatan 7,8 magnitudo. 

Tim KPOTI Kabupaten Sikka akan langsung membawa sebentuk tanggung jawab sosial dari Kementerian Kebudayaan itu ke Pulau Palue.

2 1 vote
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x