Lapisan Ingatan di Taman Kopeta Maumere

Penulis: Keeryn De Gerald

Pendopo rumah Maria Magdalena di kompleks Perumnas, Jalan Cempaka Raya, Kota Maumere, terasa asri. Selain pohon dan tanaman yang meneduhkan, pada pekarangan rumahnya pun tumbuh temulawak, kunyit, dan beberapa jenis tanaman herbal. Suasana permai ini melengkapi pertemuan saya dan Mama Magda—sapaan akrabnya, Minggu, 22 Februari 2026. 

Dua cangkir teh panas yang uapnya masih mengepul dan seplastik kue pastel digelar di atas meja kecil, menemani perbincangan santai petang itu. 

Usia pensiunan guru SD Inpres Wairklau ini sudah menyentuh angka 70 tahun. Namun, ingatannya masih segar menyingkap wajah kota Maumere seperti lembaran arsip yang tersimpan di dalam kepalanya. Dari pendopo rumahnya, kami memulai perjalanan singkat menyusuri kota.

Tempat yang selama ini saya kenal sebagai Taman Monumen Tsunami di Maumere ternyata punya identitas yang berbeda bagi istri dari mendiang Anton Bernad da Lopez ini.

“Waktu itu saya masih SD. Kami tinggal di sebelah Daeng Bolong, dari Toko Sinar Agung ke bawah. Zaman dulu toko masih pakai halar. Korbannya banyak sekali. Baba Toko Sinar Terang, Cece Toko Murni,” tuturnya perlahan, mengisahkan banjir besar yang menerjang Maumere, sekitar tahun 1969.

Mama Magda melintasi masa lalu dengan menyebut nama orang-orang yang sudah tiada, lorong, toko, dan perempatan jalan. Dalam ingatannya, kawasan yang kini kita kenal sebagai Taman Tsunami bukanlah ‘taman’ dalam artinya sekarang.

Sebelum dibangun monumen, sebelum terpasang lampu taman, sebelum anak-anak muda duduk menyesap kopi, di tempat itu pernah berdiri asrama pasukan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger)—tentara penjajah Belanda yang berisi orang pribumi dan Eropa. 

Kawasan itu pernah berfungsi sebagai pasar. Ada kios-kios kecil yang menjual sembako, sayur dan ikan. Di sisi lainnya terdapat rumah potong hewan, berdiri di dekat sebuah pohon asam tua. Setelah kios dan warung digusur, tempat itu menjadi pusat pemerintahan kota. Wajah Maumere mulai berubah. 

Seiring perkembangan kota, lahan kian diperluas, lalu dibangun Kantor Koordinator Pemerintahan Kota (Kopeta) yang kokoh berdampingan dengan Gedung Wanita, dan asrama KNIL. Ketiga bangunan ini sejajar dengan TK Bakti Ibu dan Kantor Pusat Statistik. 

Pada masanya, pemukiman yang pernah dikenal dengan nama taman Kopeta itu tak hanya berfungsi sebagai pusat administrasi, tetapi juga pusat keramaian malam. Pertunjukan digelar; musik diputar, dan dansa menjadi bagian dari kehidupan sosial kawula muda. Anak-anak tentara, polisi, pasukan angkatan laut berkumpul, menjadikan ruang itu hidup hingga larut.

“Kami nonton bersama, ramai sekali,” kenang Mama Magda.

Wajah kota pun berubah lagi. Setiap fase perubahannya meninggalkan jejak. Sulit bagi saya membayangkan tempat yang sekarang berkonotasi dengan monumen duka pernah menjadi ruang penuh hiburan. Tetapi kota memang tak pernah berwujud satu wajah saja.

Tahun 1992 datang seperti patahan dalam ingatan Mama Magda. Gempa dan tsunami mengubah segalanya. Sungguh Desember yang kelam.

Nada suara Mama Magda melandai. Ia bercerita tentang perubahan udara kala itu yang sangat panas, burung-burung dan kelelawar terbang menyapu langit berwarna merah, tanah yang terbelah. Warga berlari tanpa sempat berganti pakaian. Bangunan toko yang runtuh, mayat yang terbawa arus, tangki air besar yang terseret ke depan toko, hingga pabrik es ikan yang porak poranda. 

Warga dari kompleks pertokoan berlari dan berkumpul di taman Kopeta, yang sudah berubah menjadi lokasi pengungsian. Dapur darurat didirikan. Doa-doa dipanjatkan. 

Pasar, kantor, dan pusat hiburan berubah menjadi ruang duka. Sejak saat itu identitasnya pun ikut berubah. Gedung kantor Kopeta, bekas asrama KNIL, gedung Wanita, Kantor Statistik, dan TK Bakti Ibu hancur total tinggal puing-puing. Kelak, di atas fondasi kantor Kopeta inilah dibangun tugu berbentuk huruf M dengan bola dunianya (globe).

Tahun pun berganti. Tugu M pun akhirnya digusur. Sebuah monumen baru dibangun untuk mengenang gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Maumere, Flores pada 1992. Nama ‘Taman Tsunami’ melekat. 

Lapisan Ingatan

Kini, generasi kita melintas di taman itu tanpa banyak bertanya. Ada yang menjajakan makanan, menjual durian, dan ada pula ‘kopi oto’ yang menarik minat anak muda untuk melepas penat. Mereka menikmati udara malam di jantung kota, mengambil gambar estetik, menikmati kopi lalu membagikannya di media sosial. 

Mereka mungkin tidak tahu bahwa di bawah bangku tempat mereka duduk pernah ada rumah pasukan KNIL atau Gedung Wanita. Mereka mungkin tidak tahu bahwa bau darah rumah potong hewan pernah mencemari udara di tempat itu. Mereka mungkin tidak tahu bahwa malam-malam di tahun 70-an tempat itu pernah dipenuhi musik dan dansa. Dan mereka mungkin tidak tahu bahwa pada 12 Desember 1992, tempat itu pernah dipenuhi ratap-tangis. Mereka tetap datang. Tetap menghidupkan ruang itu. 

Cerita berubah medium. Ingatan berpindah cara.

Yang membuat saya terdiam sore itu bukan hanya kisah tsunami. Tetapi kesadaran bahwa satu ruang bisa mengalami begitu banyak metamorfosis: dari asrama KNIL, Gedung Wanita, rumah potong hewan, pusat hiburan, kantor pemerintahan, tempat pengungsian, hingga taman kota. Dan setiap generasi merasa ruang itu miliknya.

Taman Kopeta bukan sekadar ruang terbuka di tengah kota. Ia adalah lembaran arsip yang tak pernah benar-benar selesai ditulis, menyimpan jejak kolonialisme, denyut Orde Baru, riuh pasar malam, luka bencana, hingga percakapan anak muda hari ini. 

Tugas kita mungkin sederhana; jangan biarkan ingatan itu putus. Karena suatu hari nanti, ketika anak muda hari ini menjadi orang tua, mungkin mereka akan duduk di teras rumah, membuka galeri ponsel, dan berkata, “Dulu, di situ, kami sering duduk sampai malam.”

Dan kota akan kembali hidup—melalui cerita.

 

 

Sumber Foto: Instagram @Maumere.hits

0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
LOADING...
klik untuk info siaran dan live chat

Loading Time...

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x