“Menolak Punah” di Maumere: Limbah Fesyen dan Mikroplastik yang Meracuni Tubuh Kita

Elisabeth Naru

 

Puluhan orang dari pelbagai latar belakang komunitas menghadiri pemutaran dan diskusi film dokumenter Menolak Punah di Studio Komunitas KAHE, Lokaria, Maumere, Rabu, 29 April 2026. Kegiatan itu menjadi ruang refleksi bersama tentang dampak industri massal fast fashion terhadap lingkungan, kesehatan manusia, sekaligus nasib tradisi tenun yang kian terdesak.

“Menolak Punah” merupakan dokumenter kolaborasi Koperasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang. Disutradarai Aji Productions bersama Dandhy Laksono, film ini menelusuri persoalan kapas Indonesia, industri sandang nasional, limbah tekstil, hingga ancaman yang dihadapi manusia dan lingkungan.

Lewat dokumenter tersebut, penonton diajak untuk melihat kalau pakaian murah yang mudah dibeli hari ini ternyata menyimpan jejak panjang persoalan lingkungan dan kesehatan. Mulai dari pencemaran air, polusi udara, emisi karbon, hingga mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia. Ironisnya, di tengah arus produksi massal itu, buruh tekstil dan garmen justru terus menghadapi pemutusan hubungan kerja, sementara praktik produksi sandang yang lebih sehat dan berkelanjutan semakin tersisih.

Film ini mengungkap fakta mengejutkan tentang mikroplastik dari pakaian sintetis yang dapat menemari udara dan organ tubuh manusia. Proses mencuci pakaian yang berbahan dasar poliester melepaskan ratusan ribu partikel mikroplastik ke alam sekitar. Konsumsi pakaian yang berlebihan dan tidak terkontrol memperparah kerusakan lingkungan.

Di lain pihak, tradisi tenun di kampung-kampung yang berbahan dasar serat kapas alami justru jauh lebih ramah lingkungan. Sayangnya, tradisi tenun mulai ditinggalkan dan seiring dengan itu, pohon kapas yang bisa tumbuh subur di belakang rumah pun tak bernilai lagi. Padahal, bagi masyarakat adat yang masih mempertahankan tenun, tradisi menenun bukan sekadar fesyen. Tradisi tenun justru terhubung langsung dengan sejarah, tradisi, pengetahuan, identitas dan religiositas masyarakat setempat. Kehilangan tenun sama saja dengan kehilangan semua kekayaan yang sudah bertahan selama berabad-abad lamanya.

Usai pemutaran film, suasana diskusi berlangsung hening namun penuh makna.

Ricko Wawo, pemandu diskusi, mengajak seluruh peserta membungkuk di hadapan foto penenun yang terpampang di layar. Gestur itu menjadi simbol terima kasih sekaligus permintaan maaf kepada para penenun dan mereka yang selama ini menjaga warisan budaya, namun sering kali justru terlupakan dalam peradaban.

Dari ruang diskusi itu, muncul pengakuan yang terasa personal.

Nona, pengurus Bumdes Wairkoja, menyampaikan rasa bersalah karena merasa ikut menyumbang persoalan limbah tekstil lewat kebiasaan membeli pakaian tanpa pertimbangan, termasuk menawar harga karya tenun yang lahir dari kerja panjang dan telaten.

“Sekarang banyak produk tekstil fast fashion. Berbeda dengan kain yang ditenun oleh mama-mama kita. Kain tenun punya memori. Ada kasih sayang, dedikasi, dan budaya di dalamnya,” ungkap peneliti dan sutradara pertunjukan Maria Ludvina.

Narasumber dalam diskusi, Ney Dinan, Co-Founder Rumah Tenun Baku Peduli di Labuan Bajo, Manggarai Barat, menilai tema Menolak Punah sangat dekat dengan kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat Flores dan Nusa Tenggara Timur pada umumnya.

Menurutnya, tenun selama ini sering disebut sebagai identitas budaya, tetapi dalam praktik sehari-hari justru kerap diperlakukan tanpa pemahaman makna.

“Ini representasi dari apa yang sedang terjadi di Flores dan NTT. Kita bilang ini tenun kita, budaya kita. Tapi bagaimana kita memperlakukannya? Sering kali kita memakainya tanpa makna,” kata Ney yang juga Direktur Sunspirit For Justice and Peace ini.

Ia juga menyoroti lemahnya perlindungan terhadap motif dan pengetahuan lokal. Dalam banyak kasus, motif tenun daerah ditiru, diproduksi massal dengan mesin, lalu dijual kembali ke masyarakat sebagai komoditas.

“Kita terputus dari pengetahuan budaya kita sendiri. Motif tenun dicuri di depan mata, dibawa pergi, diproduksi dengan mesin, lalu kita membeli kembali itu. Secara tidak langsung kita sedang melanggengkan pencurian,” ujar Ney.

Bagi Ney dan rekan-rekannya di Rumah Tenun Baku Peduli, alasan untuk terus bertahan bukan semata soal melestarikan kain, melainkan menjaga pengetahuan, relasi, dan martabat yang hidup di balik setiap helai tenun.

Pemutaran film malam itu tidak berhenti pada persoalan industri fesyen. Diskusi justru bergerak ke pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari; apa arti pakaian yang kita kenakan, dari tangan siapa ia berasal, dan jejak apa yang ia tinggalkan.

Diskusi berakhir dengan kesadaran yang sederhana namun tajam—bahwa menolak punah bukan hanya tugas para penenun, melainkan juga tanggung jawab setiap orang yang memilih untuk memakai, membeli, dan merawatnya.

0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Sereluna
Sereluna
19 Mei 2026 10:33 pm

Baca tulisan ini baru ngeh, saya suka kalap beli Pakaian thrifting, beli banyak krna murah alhasil tdk terpakai semua dan terakhir jadi lap atau alas untuk angkat periuk🥲

LOADING...
klik untuk info siaran dan live chat

Loading Time...

Terima kasih atas dukungan Anda! Setiap kontribusi sangat berarti bagi kami untuk terus berkarya. Kami menghargai setiap kopi yang Anda belikan. ♥

Mr. Nobody

Selamat Bertugas Noizer!!!

24 Mar 2026

Dukung Kami

Transfer ke salah satu rekening berikut:

BRI 011901054069504 a.n. Maria Apriani Kartika Solapung

* Sertakan nama rekening yang Anda gunakan saat transfer.

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x