Mutiara Itu Bernama Valentino Luis

“Kamu itu mutiara dalam keluarga ini” (Inocentia da Mendez, Ibunda Valentino Luis)

Valentino Luis. Akhir tahun lalu, kami jumpa secara tak sengaja di kedai kopi Lamaffa, di samping SMPK Frater Maumere. Malam itu, saya melihatnya dari balik kaca bening. Dia duduk memelototi layar laptop, ditemani kopi hitam kesukaannya, lalu larut dalam kesunyian.

Setelah beberapa purnama kami pun bersua lagi. Saya menegurnya dari balik pintu. Kali ini dia kelihatan lebih antusias. Wajahnya berseri-seri. Sebaris permohonan maaf saya utarakan karena buku kumpulan cerpen saya, Hendelinus tidak bisa sampai ke tangannya. Terus terang saya juga ingin karya perdana itu dibaca dan dikomentari seorang Valentino Luis, tetapi apa daya buku itu memang dicetak amat terbatas.

“Stok bukunya memang sudah habis, kaka,” saya memelas sekali lagi, membawa rasa bersalah yang tak habisnya karena dia salah satu orang yang ingin sekali membaca Hendelinus. Demikianlah, dia hanya melempar senyum lebar, memaklumi. Namun rupanya, dia juga ingin memperkenalkan proyek menulis yang tengah dia kerjakan. Sebuah buku berjudul, “Kisah Kasih Kopi Flores; Emas Hitam Lamaholot” sudah sampai di meja penerbit. Siap cetak.

“Saya harus bongkar lagi tulisan-tulisan lama saya,” katanya bersemangatlalu mengarahkan layar laptopnya kepada saya, menunjukkan cover buku tersebut. Dia bilang, “Setelah buku tentang kopi di Flores bagian timur, rencananya saya juga mau menulis tentang kopi di Flores bagian barat. Sehingga ia cukup sibuk keluar masuk Perpustakaan Ledalero, memburu arsip tentang Flores yang bisa melengkapi buku terbarunyaTanpa babibu saya langsung memesan buku tersebut—kira-kira siapa lagi orang yang meragukan kualitas tulisan orang ini.

Sebagai jurnalis perjalanan dan tukang jepret, Valentino Luis adalah rujukan sempurna. Karyanya sudah tersebar di majalah-majalah yang ‘menempel’ di bangku pesawat; dibaca penumpang di udara saat mode pesawat’ ponsel diaktifkan. Colours Garuda Indonesia, Batik, Lionmag, TransNusa, Xpress Air dan majalah National Geographic Traveler merekam dengan baik karya tangannya

Tulisannya seperti punya nyawa, puitis, sesekali berbunyi mantra. Sebuah contoh keindahan menulis sastra dan laporan lapangan seorang jurnalis. Seperti saat dia mengunjungi kampung tradisional Kawa di Nagekeo (dalam majalah LionMag edisi Februari-Maret 2021), kalimatnya menari-nari seperti goresan Rudi Badil, jurnalis kawakan Harian Kompas yang lihai menulis laporan yang ringan namun penuh informasi detail.

Pada celah antara dua pohon besar yang dijuntai alga fruktikos Usnea longissima nan lebat, pemimpin adat Don Bosco Doko berdiri menyambut. “Petu Keta, Zaza Ja – yang panas jadilah dingin,” sabda lelaki tua itu sembari memercikan air ke tiap orang yang baru tiba. Saya menghitung setidaknya lima kali ia mengirap-ngirapkan tangannya ke badan saya, bagaikan proses pemindaian oleh petugas keamaan kepada tetamu di hotel-hotel. Esensinya mirip; demi menghalau kemungkinan-kemungkinan buruk yang datang dari luar. Bedanya,

petugas keamanan hotel memakai alat modern pendeteksi logam, sedangkan Don Bosco Doko hanya menggunakan air dalam Kula- sebuah wadah dari buah labu kering. Tanpa energi listrik, tanpa alarm, tanpa kedipan lampu, namun air dalam Kula punya daya nekromansi.

Pembaca bisa menghirup udara segar di puncak Wolobobo atau merasakan magisnya Danau Kelimutu tanpa harus pergi ke sana, hanya dengan membaca artikelnya di majalah, semua cerapan indrawi itu seolah hadir di depan mata. 

Kalau saja tak ada namanya tercantum, orang bisa saja mengira dia jelmaan Luis Sepulveda, seorang novelis asal Cile yang memilih meninggalkan jurnalistik dan kembali berbakti pada sastra. Misalnya, alih-alih menggiring pembaca dengan kalimat deskriptif datar membosankan, Valentino justru punya semacam jurus puitik untuk menahan mata pembaca langsung pada kalimat pembuka (lead). Catatannya saat mengunjungi pulau Solor (dalam majalah LionMag edisi November 2020) persis seperti apa yang dimaksud:

Ada semacam bayang-bayang kehidupan masa silam berkelebat dalam kebisuan purna; ilusi tubuh-tubuh kaum Eropa berinteraksi dengan wajah-wajah bumiputra. Laiknya berada dalam sepotong adegan serial tivi ‘Once Upon A Time’ yang menghadirkan kilas hikayat lampau di situasi kini, saya mengancar-ancar kembali suasana tahun 1566 ketika para padri Dominikan, sebuah ordo Katolik, membangun benteng ini di lereng bukit menghadap ke perairan yang kala itu mulai sibuk oleh lintas perdagangan yang dimabuki wangi Cendana.

Bukan Rudi Badil, bukan pula Luis Sepulveda, Valentino Luis tetaplah Valentino Luis. Namanya justru layak disebut berderet dengan mereka-mereka yang sudah berpulang itu, tetapi abadi karena meninggalkan suatu gaya penulisan yang memperkaya khazanah dunia kepenulisan. Karenanya, saya sepakat dengan kesaksian Mario Nuwa, seniman Komunitas Kahe Maumere, bahwa sosok Valentino Luis hanya satu di dunia. Mungkin butuh lima puluh atau seratus tahun lagi barulah lahir seorang penulis andal yang “seperti dia.

“Mungkin juga karena dia petualang, sudah pergi ke mana-mana, jadi tulisannya kuat, dalam, karena dia pergi langsung ke tempat yang mau dia tulis,” begitu kata Mario.

Di dunia heliografi, karya-karya visualnya tajam, nyaris sempurna untuk siapa saja yang menggandrungi fotografi. Cara dia mengambil sudut pandang menunjukkan instingnya yang tajam sekaligus ke mana hatinya tertuju; Flores. Cintanya untuk Nusa Bunga tiada bertepi; itu tidak hanya terekam dari tulisan dan karya fotonya, tetapi juga dari kerja sosial yang dia lakukan bersama Shoes For Flores, sebuah gerakan nirlaba untuk pendidikan di Flores.

Kopi, setahu saya, adalah minat yang menyita waktu dan perhatiannya berbulan-bulan sebelum sang pengelana ini berpulang. Dia curahkan energinya berkeliling Flores, menyisir jalan makadam berdebu di kampung-kampung, bertemu para petani kopi untuk mendengar langsung sejarah hidup mereka. 

Valentino Luis memang tidak pernah berubah—dia yang selalu ingin menulis dari pinggiran, membuat suara orang-orang kecil didengar. 

Sebelum kami akhiri percakapan di kedai kopi Lamaffa, dia kembali menekankan tujuan buku itu hadir.

Saya mau angkat cerita-cerita para petani kopi yang selama ini luput dari perhatian.”

Selasa, 3 Februari 2026. Saat pagi belum mekar sepenuhnya, matahari pun masih entah di mana, kabar duka datang menghentak seperti gemuruh petir awal tahun. Di bawah awan mendung, diiringi rinai hujan pada atap seng, dia pergi dalam sunyi, jauh dari para sejawat yang mengaguminya, terbaring di kampung halamannya yang teduh, Lela. 

Semua berduka, kebanyakan tak percaya; menyanjungnya Putra Terbaik Nian Tana yang pernah lahir. Orang baik. Penulis hebat. Fotografer kenamaan. Namun, yang membuat dia dicintai orang-orang adalah kebersahajaannya, kerendahan hatinya, dan ketulusannya untuk mendengar siapa saja, meskipun, dari segi pengalaman, dia bahkan sudah berkelana sampai ke ujung dunia, mendengar dongeng dari negeri-negeri antah-berantah. Dia tetap ingin pulang, menimba inspirasi dari kampung.

Saat berita duka ini tersebar cepat di media sosial, barulah kita sadar, hanya Valentino Luis yang membuat kita semua; orang-orang muda yang mencintai Flores, yang mencintai Timor, yang mencintai Sumba, yang mencintai Alor, yang mencintai NTT, yang mencintai kampung halaman kita sendiri, terhubung satu sama lain. Sebab, dia adalah jembatan bagi percakapan-percakapan yang bergulir hari-hari ini, tentang apa yang bisa kita buat untuk rumah kita, untuk tanah kita.

Valentino Luis. Saya datang menegurnya lagi di Lela. Bukan dari balik kaca bening kedai kopi, tetapi dari balik tirai putih halus yang menutupi raganya yang kaku.

Sebuah pigura yang mati, lilin bernyala, dan tumpukan karya tulisnya menumpuk di depan peti. Bukunya yang baru diterbitkan, Kisah Kasih Kopi Flores; Emas Hitam Lamaholot, tersimpan di tumpukan paling atas, buku itu karya terakhir sebelum napas penghabisannya di Rumah Sakit Lela. Lihat, dia seperti tidak mau jauh-jauh lagi dari rumah orang tua dan keluarga tercinta.

Ibunya, Inocentia da Mendez, meratap sedih di samping peti. Sesekali dia merintih, separuh jiwanya telah pergi, “Kamu itu mutiara dalam keluarga ini.”

Ayahnya, Bonefasius Jakobus Baba, terpaku menatap putra bungsunya yang lelap tertidur. Tanpa suara, tanpa airmata. Hanya wajah letih seorang ayah.

Ungkapan terima kasih kepada dua orang ini, Bonefasius dan Inocentia, karena mereka sungguh telah melahirkan dan membesarkan Mutiara bagi Tanah ini. Valentino Luis, bagaimana pun juga, tidak lahir dari ketiadaan. Ada jejak tangan dua orang hebat itu di dalam semua gerak-gerik dan pemikiran brilian Valentino Luis.

Duka untuk anak adalah juga duka untuk orang tuanya. Sanjungan untuk Valentino Luis adalah sanjungan untuk mereka berdua. Terima kasih Bonefasius dan Inocentia untuk persembahan terbaiknya. Dia selamanya akan kami kenang.

Selamat berkelana, Kaka Valen. Jangan pergi jauh-jauh. Jangan lupa pulang. Tetap dekat dengan kami. Biar kita jumpa lagi di percakapan-percakapan lain yang entah kapan. 

Beristirahatlah damai dalam sunyi!

5 1 vote
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x