Pater Otto Gusti (Bukan) Administrator Filsafat

Oleh: Agustinus Tetiro

Kalau kamu pernah kuliah di Ledalero sebelum Pater Profesor Doktor Otto Gusti Ndegong Madung, SVD menjadi rektornya, hampir pasti kamu akan sering dengar satu istilah tentang kurang tertibnya para dosen di sana dalam hal administratif. Istilah yang khas adalah para dosen mengajar berdasarkan “kehendak baik”. 

‘Kehendak baik’ itu baik dan penting, tetapi belum cukup. Dalam sebuah institusi dan lembaga, kehendak baik membutuhkan tertib administrasi untuk pendataan, pelaporan, pengukuran realisasi, evaluasi dan perencanaan. Lalu, kembali berulang seperti itu: harian, mingguan, bulanan, triwulanan, semesteran, tahunan dan seterusnya. 

Kalau saya tidak salah ingat, Otto Gusti tiba di Ledalero pada 2009. Akan tetapi, namanya telah lebih dahulu terdengar di Ledalero, mungkin sekitar awal 2008, bahwa akan datang seorang doktor baru di bidang filsafat yang mendalami pemikiran Jurgen Habermas dan mempunyai minat yang amat kuat dalam pemikiran politik. 

Ini pasti jadi berita gembira bagi kami mahasiswa karena selama ini, kami telah memiliki para teolog yang amat kuat dalam menarik relevansi pengajaran iman dan agama ke dalam kehidupan politik. Sebut saja tiga nama paling mencolok: Pater Doktor John Prior, SVD, Pater Doktor Amatus Woi, SVD dan Pater Doktor Paulus Budi Kleden, SVD. 

Kami mahasiswa tingkat akhir (tahun ke-IV) praktis tidak mempunyai kesempatan mengikuti kuliah dosen baru Otto Gusti Madung, kecuali beberapa teman menulis skripsi bertema pemikiran politik yang bertemu dengannya dalam ujian akhir, atau bisa juga sejumlah teman yang masih berlama-lama di kampus hingga tahun ke-VIII, karena rasa cinta yang besar terhadap kampus dan…. Kebijaksaan, tentu saja. Hehehe. Peace! 

Saya sering bertemu Pater Otto di lorong kampus, sambil melihat gayanya yang asyik sebagai seorang dosen muda yang tampan dan semangat. Pater Otto beberapa kali ikut hadir dalam kuliah Filsafat Manusia yang diberikan Pater Doktor Leo Kleden, SVD. Saya juga sering mengikuti kuliah ini sebagai mahasiswa ‘selundupan’ karena bolos dari kelas Pastoral Liturgi (atau: Liturgi Pastoral? Lupa!) oleh Romo Martoni Tangi. 

Skenarionya kurang lebih begini: saya hadir dulu kuliah Pastoral Liturgi selama 15 menit untuk membubuhkan paraf tanda kehadiran, lalu meninggalkan ruang kelas dan bergabung ke kelas Filsafat Manusia.

Saya sebenarnya telah lulus dari kuliah Filsafat Manusia dengan nilai yang “pas untuk lulus” dari kelasnya Pater Profesor Doktor Konrad Kebung Beoang, SVD. Memutuskan mengikuti sebagai mahasiswa pendengar kuliah Filsafat Manusia dari Pater Leo, lebih karena dua hal: pertama, merasa kurang puas dengan kuliah Filsafat Manusia sebelumnya yang saya nilai tidak atraktif. Kedua, saya selalu bisa menikmati kuliah Pater Leo, berdasarkan pengalaman sebelumnya di kelas wajib Filsafat Ketuhanan dan kelas pilihan Hermeneutik Filosofis Modern dan Kontemporer.  

Ya, bagaimanapun filsafat ini soal ‘jalur’, gaya, dan rasa. Bagi saya, kuliah Pater Leo lebih impresif dan berterima. Pada akhirnya, saya kemudian tahu bahwa bahan kuliah Pater Leo banyak memiliki kemiripan dengan refleksi tentang manusia dalam buku Antropologi Metafisik karya Anton Bakker SJ.

Kembali ke Pater Otto. Setelah beberapa lama, barulah saya tahu bahwa Pater Otto mengikuti kuliah-kuliah Pater Leo untuk sedikit belajar tentang atmosfer pembelajaran dan kuliah di Ledalero. Hal ini mungkin tentang gaya mengajar, mendeteksi dan mengantisipasi pertanyaan para mahasiswa, manajemen kelas, dan lain-lain.

Di luar ruang kuliah, Pater Otto mendapatkan wadah yang amat baik untuk riset dan penelitian melalui sejumlah jurnal publikasi, penerbitan, lembaga riset, dan lembaga swadaya masyarakat di Ledalero, Maumere dan sekitarnya.   Pater Otto menulis artikel untuk jurnal dan media massa, menerbitkan buku, menjadi rekan editor bersama Pater Doktor Paulus Budi Kleden, SVD, menjadi moderator untuk sejumlah LSM dan kelompok kategorial, dan lain-lain. 

Setelah pulang dari Ledalero untuk sebuah seminar internasional, sosiolog Ignas Kleden pernah bercerita tentang Pater Otto: “Gus, saya baru pulang dari Ledalero. Saya kenal dengan seorang imam, Pater Otto Gusti yang mengajar filsafat dan saya lihat dia juga seorang dengan kemampuan manajerial dan organisator yang baik. Dia berbicara tentang tertib administrasi dan rencana pengembangan kampus menjadi institusi dan kemudian universitas. Itu bagus. Jarang kita menemukan orang yang belajar filsafat sekaligus juga menaruh perhatian besar pada kewajiban administratif. Dia itu aset Ledalero” 

Dari situ, saya menaruh perhatian terhadap artikel-artikel dan buku-buku karya Pater Otto. Kesan saya, pada karya-karya awalnya, Pater Otto memberikan penekanan amat jelas dan distingtif tentang sejumlah tema seperti Filsafat Politik, Filsafat Hak Asasi Manusia (HAM), Relasi Agama dan Negara, Multikultiralisme, dan lain-lain. 

Karya-karyanya layak disebut semacam buku sumber (source book) karena tulisannya informatif dan filosofis. Pembabakan generasi HAM, misalnya, dijelaskan berulang-ulang. Begitu juga dengan hal-hal yang kiranya penting kita taruh di dalam otak dan hati kita sebagai dasar dan tujuan dalam membahas hal terkait.   

Pater Otto juga aktif di media sosial seperti facebook. Kami saling menyapa melalui facebook. Dari sana juga, saya membaca bagaimana Pater Otto amat menikmati hidup di Ledalero (living in Ledalero) dan memandang filsafat sebagai olahraga keras bagi otak (Anstrengung des Denkens)

Dia membagi pengalaman tentang betapa dalam banyak hal mahasiswa justru menjadi rekan dialog yang produktif dan inspiratif bagi para dosen. Dia juga membagi momen berolahraga bersama dan bekerja bakti bersama para mahasiswa. 

Begitu juga tentang niatnya menjadikan STFK Ledalero sebagai universitas yang harus didahului dengan menjadi institut, teralisasi kini sebagai Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. Saya mempunyai kesan yang kuat bahwa Pater Otto adalah pribadi yang amat terbuka terhadap dialog dan pandangan-pandangan lain. 

Kami bertemu untuk pertama kali di Jakarta, tepatnya di Lapo Tondongta. Bersama Doktor Don Bosco Doho, teman seangkatan Otto, kami makan siang dengan menu daging babi panggang khas Karo dan bir Bintang beberapa botol. Hidup dan pertemanan memang harus sering-sering dirayakan! 

Di bagian akhir makan siang yang lezat itu, Pater Otto sempat bertanya apakah saya memiliki gelar S2 filsafat. Saya bilang, kalau saya pernah kuliah pasca-sarjana dan meraih gelar di bidang administrasi publik, tetapi rasa-rasanya saya belum mau menjadi pejabat publik. Hehe!

Suatu kali, mungkin di tahun 2021 atau 2022, jagat media sosial heboh karena ada yang memelintir pernyataan Pater Otto tentang pandangannya terkait homoseksualitas dan LGBT. Padahal pandangan itu suatu pernyataan spontan dari seorang pengajar filsafat HAM. 

Saya menyimak beberapa komentar para netizen yang ternyata jauh lebih spontan. Ada kesan orang di media sosial tidak banyak berpikir sebelum mengomentari pernyataan seseorang. Saya kemudian nimbrung dengan memberikan suatu pandangan yang amat singkat dari perspektif Etika Hukum Kodrat yang kebetulan sedang saya geluti saat itu. 

Bagi saya, pernyataan spontan Pater Otto yang dipotong dan beredar di media sosial itu adalah semacam salah satu konsekuensi dari memilih jalur filsafat HAM. Tanpa perlu membenturkan terlalu keras keduanya, filsafat HAM memang selalu butuh sebuah tilikan yang lebih adil dari suatu pandangan Hukum Kodrat. 

Etika Hukum Kodrat itu barang antik. Filsafat HAM adalah perkakas modern. Sesekali kita orang modern perlu melihat barang-barang antik untuk menyadari bahwa: kita semua sampai pada titik ini karena bermula dari sana.

Setelah saya tamat dari program pascasarjana STF Driyarkara, Pater Otto pernah mengirimkan pesan bahwa almamater sedang membuka lowongan dosen filsafat yang non-imam. Saya tersenyum, tetapi tidak sempat membalas pesan itu.    

Saya merasa belum waktunya berdiri dan mengajar di depan kelas di Ledalero. Biarkanlah itu menjadi tugas dari teman-teman kelas yang selalu saya akui komitmen, konsistensi, dan kecanggihan cara berpikirnya:  tidak ada teman angkatan kami yang lebih ulet daripada Willy Gaut, orang paling nyeni dalam memahami pikiran pada angkatan kami jatuh pada Vinus Nahak, kutu buku paling ‘berbahaya’ tentu saja ada pada diri Sil Ule, dan senangnya saya bahwa ketiganya mengajar di almamater Ledalero.  

Bahwa beberapa hari ini jagat media kembali diramaikan dengan berita Pater Otto jadi guru besar atau profesor, itu hal yang amat layak diterima.  Kerja filosofis dan administratifnya membawanya ke level itu. 

Akan tetapi, dua hal ingin saya tagih dari sang yubilaris. Pertama, Otto Gusti lulusan Jerman. Di Jerman, jika ingin menjadi profesor, seorang pengajar mesti menulis habilitasi. Adalah bukan dosa, kalau kita meminta Pater Otto menerbitkan sebuah buku tahun ini sebagai semacam habilitasi yang perlu kita baca untuk menakar sejauh mana perkembangan pemikiran dan minat tentang politik. 

Kedua, seperti begitu tertibnya Pater Otto sebagai rektor menjadikan STFK sebagai IFTK, maka langkah itu perlu dilanjutkan dengan menjadikannya sebagai universitas. Agar, dari Universitas Ledalero dengan keberagaman ilmu, kita bisa lebih jelas dan jernih melihat semesta (universe)

Tagihan ini sebenarnya untuk memantapkan “kehendak baik” sang yubilaris sendiri tentang tridarma perguruan tinggi: “mengajar selalu mengandaikan suatu pandangan tentang manusia dan pembelajaran. Penelitian selalu mengandaikan suatu hierarki kepentingan dan pengabdian kepada masyarakat selalu mengandaikan suatu konsep tentang keadilan sosial” 

 

Selamat berbahagia, hai Profesor (jangan!), oke, hai Administrator Filsafat! Takzim! Tabe!

4.5 6 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
LOADING...
klik untuk info siaran dan live chat

Loading Time...

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x