Ricko Wawo
Naskah film pendek “Tuang Yosep” karya Mariemon Simon Setiawan berhasil meraih juara 2 kompetisi penulisan skenario film narasi kepahlawanan dalam rangka Hari Film Nasional 2026. Emon, sapaan akrab si penulis naskah, terbang langsung ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari Kementerian Kebudayaan Indonesia, Senin, 20 April 2026.
Menurut dewan juri, naskah tersebut berhasil “mendobrak sentralisasi sejarah dengan membawa perspektif segar dari luar Jawa yaitu NTT pada 1965. Kepahlawanan di sini diwujudkan secara sangat realistis dan manusiawi lewat sosok pastor yang membela umatnya, menunjukkan bahwa dorongan memperjuangkan kebebasan dan nasionalisme bisa melampaui batas keyakinan mayoritas.”
Penulis jebolan IFTK Ledalero ini mengaku bangga dengan pencapaian tersebut. Dia sempat tak menyangka naskah “Tuang Yosep” bisa masuk nominasi, apalagi menyisihkan lebih dari 200 naskah film pendek dari seantero negeri.
“Saya sempat pesimis karena temanya agak sensitif,” kata Emon saat dihubungi seminggu setelah menerima penghargaan.
Emon bukan pemain baru di dunia perfilman Maumere. Sebelum “Tuang Yosep,” jejak karyanya sudah terlihat sebagai produser, penulis naskah, dan bahkan aktor peran. Namun Emon sebenarnya terlebih dahulu tertarik pada penulisan novel dan cerpen. Dia terjun ke dunia film berkat sentuhan ‘tangan dingin’ mahaguru Romo Yohanes Maget, biarawan Karmel yang sudah lama jatuh cinta pada jagad perfilman. Dari Romo Maget, Emon dapat ilmu tentang sinematografi dalam sebuah pelatihan pada tahun 2021.
Cara membuat premis dalam film, anatomi naskah, dan penulisan dialog film dipelajarinya dengan sungguh. Bakat dia menulis cerita fiksi yang sudah terasah sejak SMP banyak membantunya juga saat menulis naskah film. Dari pelatihan bersama Romo Maget itu juga, Emon akhirnya menelurkan naskah film pertamanya yang juga sudah difilmkan, berjudul; “Amplop.”
Kerja sama antara Romo Maget dan beberapa peserta pelatihan sinematografi—termasuk Emon, rupanya berlanjut saat mereka menggarap film “Untuk Mama” yang didukung platform Anti-Corruption Film Festival Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurutnya, inilah cikal bakal dari komunitas Ugu Film.
Pada tahun 2023, Emon dan teman-temannya membentuk Parextia, komunitas film kumpulan para eks frater yang menolak hidup sia-sia setelah keluar dari “Negeri yang berkelimpahan susu dan madu.” Nama Parextia sempat melesat saat film mereka yang berjudul “Resilience” mendapatkan penghargaan terbaik kategori film pendek dalam Flobamora Film Festival 2024 di Kupang.
Saat ini Emon sedang fokus menulis beberapa naskah film. Salah satunya “Tuang Yosep”—yang membuat nama Emon disanjung di antara para pelaku film nasional.
Naskah ini mengangkat sekeping cerita tentang pembantaian massal para tertuduh Partai Komunis di Kabupaten Sikka, secara spesifik di kampung halamannya, di Kecamatan Bola, pada tahun 1966. Awalnya, Emon meneliti tragedi berdarah tersebut sebagai materi penulisan tesis untuk persiapan gelar magisternya di IFTK Ledalero. Tak jadi tesis, hasil riset itu kemudian dia kembangkan menjadi naskah film pendek.
Sinopsis “Tuang Yosep”
Tuang Yosep (30) adalah seorang pastor muda yang menjadi pastor rekan di sebuah paroki terpencil di wilayah Flores. Pada suatu sore, ketika dalam perjalanan ke parokinya, motor tuanya mogok. Ia melihat sekelompok orang yang diangkut ke dalam sebuah truk dengan kawalan ketat tentara bersenjata. Melihat hal itu, Tuang Yosep terdiam kebingungan setelah mendapat informasi bahwa orang-orang itu dituduh komunis.
Beberapa hari kemudian, ketika sedang berdoa brevir sore, Tuang Yosep mendengar laporan bahwa beberapa umat paroki sedang dikumpulkan dan ditawan di halaman kantor kecamatan. Orang-orang itu dituduh komunis. Tuang Yosep segera keluar dan menuju ke lokasi. Dia tahu bahwa orang-orang itu adalah umatnya yang sederhana—yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang paham komunisme, sehingga ia memberanikan diri untuk membebaskan mereka. Di lokasi, dia justru ditantang dan dihardik, tetapi nyalinya malah tidak menciut sama sekali. Ia lalu diangkut ke kota untuk bertemu langsung dengan kepala Komop.
Tuang Yosep kecewa sebab negosiasi gagal, dan ia kehilangan jejak dan kesempatan untuk menyelamatkan umatnya dari pembantaian. Ia lalu mampir di rumah orang tuanya malam itu juga. Di sana Tuang Yosep dan bapaknya sempat berdebat perihal keberaniannya. Bapaknya tidak ingin anaknya mati konyol. Tuang Yosep berujar, keberaniannya untuk melawan dilatari rasa kemanusiaan dan ia tahu orang-orang itu tidak bersalah.
Keesokan harinya, setelah diberi motor baru, Tuang Yosep pulang kembali ke parokinya. Tiba di tempat yang sama saat motornya mogok, Tuang Yosep menghentikan laju ‘kuda besi’-nya. Ada yang meneriakinya. Ibu-ibu dan anak-anak lalu keluar dari rumah, lalu menangis histeris. Tuang Yosep menyampaikan bahwa ia gagal menyelamatkan umatnya yang diangkut.
Perjuangan Romo Pede
Naskah film “Tuang Yosep” terinspirasi dari perjuangan Pastor Frederikus da Lopez, Pr kala menyelamatkan umatnya yang dituduh komunis. Saat kejadian tragis itu berlangsung, imam yang akrab dipanggil Romo Pede itu menjabat sebagai Pastor Pembantu Paroki Bola, sekitar 20 kilometer dari kota Maumere.
Dalam wawancara dengan Tempo.co, September 2012, Romo Pede, kala itu, sampai menantang Komop untuk membuktikan keterlibatan umatnya dengan PKI. Namun ia tak dihiraukan.
“Mereka katakan, kami bukan pengambil keputusan,” katanya. Romo Pede mengikuti Komop sampai ke Kota Maumere. Sayang, perjuangannya sia-sia karena warga yang diangkut tetap dieksekusi dan dikuburkan di Kampung Garam, Kota Maumere.
“Tidak ada yang selamat. Semua yang dibawa dieksekusi malam itu,” ucap Romo Pede, dilansir dari Tempo.co.
Elvan de Porres dalam tulisannya di Laune.id berjudul “Ingatan-Ingatan dan Tuhan Allah di Maumere,” menyebutkan, saat membela umatnya yang ditangkap secara serampangan, Romo Pede diancam tentara, dan menyusur penangkapan umat yang tidak bersalah itu, Romo Pede minta semua tahanan dibebaskan, namun permintaannya ditolak.
Akibat perlawanannya itu, ia dipindahkan dari Paroki Bola ke Ndona, Kabupaten Ende. Di Ende, ia melapor kepada Uskup bahwa di Maumere Komando Operasi sudah jadi Tuhan Allah.
Emon menyadari kompleksitas isu yang diangkat bila naskah ini difilmkan. Tentu saja sebagai pegiat film, Emon ingin naskah itu difilmkan, tetapi dia sadar akan kerumitan teknis yang menurutnya membutuhkan biaya produksi yang tidak murah.
“Butuh investor besar,” ucap Emon tertawa.