Ricko Wawo
Grup musik kampung Leisplang akhirnya merilis album perdana berjudul “Alang” (Atap Langit), Kamis, 30 April 2026. Album mini berisi lima lagu ini telah banyak dinantikan pendengar setia Leisplang. Sebagai salah satu orkes musik kampung yang populer di Maumere, album ini semakin membuktikan eksistensi Leisplang dalam khazanah musik tradisi. “Alang” juga memperkaya katalog karya Leisplang setelah selama ini hanya menelurkan single.
Ide untuk merilis album sebenarnya tercetus setelah Leisplang pulang dari Port Villa, Vanuatu. Mereka tampil di negara Pasifik tersebut untuk acara 7th Melanesian Arts and Culture Festival (MACFEST), 19-31 Juli 2023 silam.
Erick Bagoez’t, Beno Meko, Abel Fernando, Vian Serafin, Piduk Alfridus, Tanto, Obeth Cealtie dan Alfred Samputra, ingin memperkenalkan budaya, terutama tradisi sastra lisan di kampung halaman mereka melalui album musik.
“Kami mau tunjukkan ‘mahal’-nya budaya kita sendiri kalau ke luar daerah. Makanya kami keluarkan mini album ini,” ungkap Erick Bagoez’t kepada after7pm.com, Sabtu, 2 Mei 2026.
Menurut Erick, materialitas musik “Alang” langsung digarap sejak mereka pulang dari Vanuatu. Sebuah proses panjang berani ditempuh meski terpisah jarak dengan dua orang personel, Obeth Cealtie dan Alfred Samputra— yang berkarier di Bali. Keduanya merekam materi musiknya di Bali lalu dikirim ke Maumere.
Lima lagu dalam “Alang” adalah FNU (Flores Nuhan Ular), Bekor (Be strong together), KKB (Keki Kelik Blerin), Sareng (Hidup di dunia hanya bersifat sementara), dan Bako Koli (Rokok).
Tidak semua lagu dalam “Alang” pernah dibawakan secara penuh di panggung pertunjukan atau di bawah tenda pesta. Yang tersebar di youtube atau media sosial, kata Erick, mungkin hanya versi rekaman amatir. Jadi, ini pertama kalinya lagu-lagu itu direkam di studio rekaman yang proper. Hasilnya sekarang sudah bisa dinikmati di semua platform musik digital. Sedangkan, video lirik sedang dikerjakan oleh Romo Rolly Davinsi, Pr dan akan ditayangkan di kanal youtube Leisplang.
Lebih jauh, tambah Erick, lagu Bekor diciptakan oleh Obeth Cealtie saat mereka singgah di Jakarta sepulang dari Vanuatu.
“Lagu yang benar-benar baru itu adalah lagu Sareng, waktu jamming sastra Komunitas Kahe kami sempat nyanyi. Sementara Bekor itu hasil dari refleksi Obeth,” tandasnya.
Lagu lainnya yakni FNU (Flores Nuhan Ular) diciptakan oleh Gerardus Gen atau Om Gen, musisi senior yang selalu setia mendampingi Leisplang selama ini.
“Kami sudah anggap Om Gen sebagai orang tua pendamping Leisplang,” tandas seniman asal Kloangpopot ini.
Sementara itu, Bako Koli diciptakan oleh maestro musik mendiang Yanto Fortes. Leisplang mendapat izin dari istri dan anak Yanto Fortes untuk memasukkannya ke dalam album baru mereka.
Seperti kata Erick, “Bako Koli itu lagu legend. Bukan hanya musiknya yang menarik tapi lebih dari itu kami menilai lirik lagunya juga unik sekali.”
Leisplang berencana meluncurkan “Alang” secara live di rumah tahanan (Rutan) Maumere dan di Pasar Wairkoja. Mereka ingin tampil di Rutan karena menurut Erick, “jarang ada ‘barang-barang’ begini di sana.”
Filosofi “Alang”
Jenama “Alang” yang merupakan akronim dari Atap Langit memiliki makna filosofis yang mendalam. Nama ‘Atap’ merujuk langsung pada arti harafiah dari kata “leisplang/lisplang” yang berarti “papan material bangunan yang dipasang pada ujung pinggir atap untuk menutupi rangka atap.”
Erick menjelaskan Kabupaten Sikka merupakan negeri yang beragam adat dan budayanya (pluriversal), tetapi jangan sampai perbedaan itu menimbulkan ketidakharmonisan. Perbedaan itu justru harus membawa harmonisasi. Maka, sebagai grup musik yang menyuarakan kembali pesan-pesan dalam kekayaan sastra lisan dari kampung, Leisplang tidak hanya ingin menjadi ‘atap rumah’ yang terbatas pada satu ‘rumah’ saja, mereka ingin menjadi ‘atap langit’ yang lebih bernilai universal. Album ini ingin menekankan keharmonisan sebagaimana pesan yang tersirat dalam tradisi lisan ‘orang Maumere’.
Mengambil filosofi langit sebagai naungan universal, album ini merajut bait-bait syair tradisi Maumere yang sarat akan pesan mendalam. “Atap Langit” bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah pengingat bahwa di bawah langit yang sama, kita memikul tanggung jawab yang sama untuk menjaga harmoni kehidupan.
Selamat menikmati harmoni “Alang” di semua platform musik digital.