Oleh: Keeryn De Gerald
Sejumlah komunitas lokal di Kabupaten Sikka menunjukkan kepedulian terhadap kondisi anak-anak yang terdampak gempa dengan menggelar kegiatan pendampingan psikologis atau trauma healing. Komunitas Huruf Kecil, Shoes For Flores (SFF), Le’Orin, Youth Day, dan Child Fun mengadakan kegiatan khusus bagi anak-anak usia TK hingga kelas VI sekolah dasar yang berada di lokasi pengungsian Stadion Gelora Samador pada 17 Agustus 2026.
Kegiatan serupa kemudian kembali dilaksanakan oleh Komunitas Huruf Kecil dan Shoes for Flores di halaman Kantor Bupati Sikka pada 23 Agustus 2026. Berbeda dengan kegiatan pertama yang dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kegiatan kedua memberikan tambahan materi berupa permainan edukatif dan pengenalan sederhana mengenai mitigasi bencana.
Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi psikologis anak-anak yang masih diliputi rasa takut setelah mengalami gempa dan masih menghadapi situasi gempa susulan. Sejumlah anak masih merasa khawatir untuk kembali berada di dalam gedung. Aktivitas sehari-hari yang sebelumnya dapat dilakukan dengan bebas pun berubah karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di sekitar tenda pengungsian.
Situasi tersebut membuat ruang bermain dan aktivitas anak-anak menjadi terbatas. Di tengah suasana pengungsian, rasa khawatir akan kemungkinan terjadinya gempa susulan juga masih dirasakan. Berangkat dari kondisi tersebut, kolaborasi ini berupaya menciptakan ruang sementara bagi anak-anak untuk bermain, berinteraksi, dan mengekspresikan diri melalui kegiatan yang menyenangkan.
Di Gelora Samador, puluhan anak mengikuti kegiatan dengan antusias. Para relawan menyiapkan sejumlah aktivitas seperti mewarnai, menggambar, permainan edukatif, pembagian makanan ringan dan susu, serta kegiatan bernyanyi bersama. Anak-anak juga diajak menyanyikan lagu-lagu yang berkaitan dengan peringatan kemerdekaan, termasuk lagu bertema 17 Agustus dan Indonesia Tanah Air Beta.
Suasana kegiatan pun dipenuhi kegembiraan. Anak-anak yang sebelumnya berada di dalam rutinitas pengungsian mendapat kesempatan untuk berkumpul dan bermain bersama teman-teman mereka. Melalui gambar, warna, permainan, dan nyanyian, para relawan berusaha menciptakan suasana yang lebih ringan di tengah situasi yang masih menyisakan kekhawatiran.
“Kami terpikir bahwa bagaimana jika kita mengisi 17 Agustus kali ini dengan kegiatan yang lebih bermakna bersama adik-adik di camp pengungsian. Kami sangat senang dan tidak menyangka juga bahwa antusias adik-adik dalam kegiatan trauma healing yang kami laksanakan direspons begitu positif,” tutur Ina Atu dari Komunitas Huruf Kecil.
Menurut Ina, jumlah anak yang mengikuti kegiatan cukup banyak sehingga panitia perlu membagi peserta ke dalam dua kelompok besar. Pembagian kelompok dilakukan agar pendampingan dan permainan dapat berjalan lebih terarah serta memberikan ruang yang cukup bagi seluruh anak untuk terlibat dalam setiap kegiatan.
“Karena jumlah adik-adik yang banyak sehingga kami membaginya ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok pertama dari anak TK, kelas I, dan kelas VI. Sementara kelompok lainnya terdiri dari kelas II hingga kelas V SD. Kegiatan berjalan baik dan penuh sukacita,” lanjut Ina.
Pembagian tersebut membuat para relawan dapat menyesuaikan bentuk permainan dan aktivitas dengan kelompok usia anak-anak. Anak-anak usia TK dan sekolah dasar awal mendapatkan pendampingan melalui kegiatan yang lebih sederhana dan interaktif, sedangkan kelompok lainnya diajak mengikuti permainan yang melibatkan kerja sama dan aktivitas kelompok.
Bagi para relawan, momentum kemerdekaan menjadi kesempatan untuk menghadirkan kegembiraan bagi anak-anak. Nyanyian lagu-lagu nasional dan kegiatan bermain bersama menjadi cara sederhana untuk membangun kembali suasana sukacita di tengah keterbatasan yang dihadapi para pengungsi.
Pelaksanaan kegiatan pada 17 Agustus juga memiliki makna tersendiri. Di tengah kondisi pengungsian, perayaan kemerdekaan tahun ini tidak hanya diisi dengan perlombaan atau upacara, tetapi juga melalui kebersamaan dan kepedulian terhadap anak-anak yang sedang menghadapi situasi sulit.
Bagi para relawan, momentum kemerdekaan menjadi kesempatan untuk menghadirkan kegembiraan bagi anak-anak. Nyanyian lagu-lagu nasional dan kegiatan bermain bersama menjadi cara sederhana untuk membangun kembali suasana sukacita di tengah keterbatasan yang dihadapi para pengungsi.
Para relawan berharap dapat memiliki lebih banyak waktu dan kesempatan untuk kembali mendampingi anak-anak terdampak gempa di berbagai lokasi. Harapannya, kegiatan serupa dapat terus menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk bermain, belajar, dan berinteraksi di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung.
Melalui langkah sederhana tersebut, Komunitas Huruf Kecil, Shoes for Flores, Le’Orin, Youth Day, dan Child Fun berupaya menyampaikan satu pesan penting, bahwa di tengah situasi bencana, anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk menjadi anak-anak—bermain, tertawa, bernyanyi, dan merasakan hangatnya kebersamaan.