Elisabeth Naru, Novi Maranatha, Elisabeth Lithariyani
Berita tentang seorang remaja perempuan berusia 14 tahun di Kabupaten Sikka yang ditemukan meninggal dunia setelah sempat menghilang, memicu kemarahan, duka, dan simpati publik.
Ketika seorang anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual, rasa keadilan kita seperti ditarik keluar dengan paksa. Namun setiap kali tragedi seperti ini terjadi, ada satu hal yang juga terasa mengganggu; mengapa kekerasan terhadap perempuan dan anak terus berulang dalam bentuk yang berbeda-beda?
Pemerkosaan dan pembunuhan adalah puncak dari kekerasan terhadap perempuan (femisida). Tidak ada perbandingan yang bisa menyamakan luka yang ditinggalkan oleh kejahatan seperti itu. Tetapi jika kita melihat lebih jauh, ada satu hal yang sering luput kita sadari. Kekerasan tidak selalu dimulai dari peristiwa besar. Ia sering tumbuh dari hal-hal sederhana yang lama-lama dinormalisasi.
Tiga reporter perempuan after7pm.com; Elisabeth Naru, Novi Maranatha, dan Elisabeth Lithariyani, membagikan pengalaman dan pandangan mereka perihal bentuk kekerasan terhadap perempuan yang acap kali dinormalisasi di tengah masyarakat: body shaming, catcalling, dan komentar/candaan seksis.
Body Shaming
Body shaming adalah tindakan mengomentari, mengejek, atau merendahkan tubuh seseorang, baik tentang bentuk, ukuran, warna kulit, berat badan, tinggi badan, maupun penampilan fisik lainnya dengan cara yang membuat orang tersebut merasa malu, tidak nyaman, atau tidak percaya diri.
Sering kali tindakan body shaming dianggap sebagai hal sepele. Dianggap hanya candaan atau hanya komentar.
“Kok gemukan sekarang?”
“Kurusan sekali eh, ko tidak makan kah?”
“Perempuan kok badannya begitu?”
“Kalau badan seperti itu, siapa juga yang mau?”
Kalimat-kalimat seperti ini begitu akrab dalam percakapan sehari-hari sampai kita jarang mempertanyakan dampaknya. Ia hadir di ruang keluarga, di sekolah, di tempat kerja, bahkan di media sosial. Kadang diucapkan sambil tertawa, seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Padahal body shaming adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling sering dinormalisasi. Tindakan ini mungkin tidak meninggalkan luka fisik. Tetapi ia menanamkan sesuatu yang jauh lebih dalam; rasa malu terhadap tubuh sendiri.
Seorang anak perempuan yang terus-menerus mendengar bahwa tubuhnya terlalu besar, terlalu kecil, terlalu gelap, terlalu berbeda, perlahan belajar satu hal; tubuhnya boleh dinilai, dikomentari, dan dipermalukan oleh orang lain. Di titik itu, kita sebenarnya sedang membentuk cara pandang yang lebih besar, bahwa tubuh perempuan adalah ruang publik, bahwa siapa saja boleh memberikan penilaian. Dari sanalah benih-benih kekerasan sering tumbuh.
Ketika tubuh perempuan terus diposisikan sebagai objek yang boleh dikritik, dipermalukan, atau dihakimi, batas antara komentar, kontrol, dan kekerasan menjadi semakin tipis. Kebiasaan yang menormalisasi objektivikasi terhadap tubuh perempuan juga turut membentuk kebiasaan lambat merespons (pasif) ketika tubuh perempuan benar-benar disakiti. Oleh karena itu, membicarakan body shaming bukan hanya soal sensitivitas atau perasaan tersinggung, tetapi juga soal cara masyarakat memperlakukan tubuh perempuan sejak awal.
Menghormati perempuan bukan hanya tentang melindungi mereka dari kekerasan yang ekstrem. Ia juga tentang membangun budaya yang tidak menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan ejekan sejak awal.
Karena kekerasan yang besar jarang muncul begitu saja, ia sering tumbuh
dari lingkungan yang sudah terlalu lama membiarkan bentuk-bentuk kekerasan kecil dianggap biasa.
Dunia yang aman bagi perempuan tidak dibangun hanya ketika tragedi besar terjadi. Ia dibangun dari cara kita memperlakukan perempuan setiap hari, bahkan dalam hal-hal yang tampak kecil.
Catcalling
Catcalling adalah bentuk pelecehan verbal di ruang publik, biasanya berupa komentar, siulan, panggilan, atau gestur bernuansa seksual yang ditujukan kepada seseorang tanpa persetujuan mereka.
Perilaku catcalling masih sering ditemui di ruang publik.
Saya bahkan pernah mengalami beberapa bentuk panggilan bernuansa menggoda. Mereka (pelaku catcalling) membalutnya dalam berbagai bentuk sapaan seperti suara kecupan, atau siulan, bahkan yang paling parah, mereka mengomentari bentuk tubuh serta tatapan mata yang berlebihan, memelototi perempuan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Banyak orang, terutama laki-laki, menganggap ini sekedar candaan atau bentuk perhatian. Namun, bagi sebagian orang, terutama perempuan, pengalaman tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman ketika berada di ruang publik. Menjadi seorang perempuan remaja yang pernah mengalami beberapa bentuk catcalling, berjalan di ruang-ruang publik terasa begitu berat, ada kalanya saya harus mempercepat langkah, menundukkan pandangan dan berpura-pura tidak mendengar komentar yang dilontarkan.
Sebagai perempuan, kadang saya merasa seperti memiliki radar yang membuat saya lebih peka terhadap tatapan dan komentar orang lain.
Sejak kecil saya menerima nasihat-nasihat untuk menjaga diri sendiri di ruang publik.
“Jangan jalan sendiri, jangan pakai pakaian tertentu, dan lain-lain.”
Nasihat ini memang sering muncul dari niat untuk melindungi, tetapi lama-kelamaan saya merasa keselamatan saya malah bergantung pada bagaimana saya mengatur diri sendiri, bukan dari bagaimana cara orang lain memperlakukan saya dengan adil.
Saya pun sampai pada pertanyaan, mengapa rasa aman masih terasa seperti sebuah privilege bagi perempuan?
Beberapa orang mungkin punya sedikit keberanian diri untuk melawan, tetapi ada perempuan yang bahkan belum punya keberanian macam itu.
Dalam banyak situasi, perempuan yang mengalami catcalling tidak selalu merespons secara langsung, bukan karena mereka menerima atau menganggapnya sebagai hal yang wajar, tetapi sering kali karena mereka sedang mempertimbangkan keamanan diri sendiri.
Di ruang publik yang tidak bisa diprediksi situasinya, memilih diam tidak selalu berarti setuju. Kadang-kadang, diam adalah cara saya sebagai perempuan melindungi diri saya di ruang yang tidak bisa sepenuhnya memberikan rasa aman.
Komentar/Candaan Seksis
Ketertarikan yang berlebihan terhadap fisik perempuan kerap melahirkan tindakan yang merendahkan dan melecehkan martabat mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, ketertarikan pada fisik perempuan sering dianggap sebagai hal biasa. Kata-kata seperti mulus, seksi, bahenol atau komentar tentang bentuk tubuh sering dilontarkan kepada perempuan.
Tidak jarang, komentar tersebut dibungkus sebagai candaan. Namun, di balik candaan itu tersimpan sebentuk stereotipe dan objektivikasi terhadap tubuh perempuan. Ini disebut sebagai komentar seksis, yang berarti ucapan atau pernyataan yang merendahkan, menilai, atau memperlakukan seseorang secara tidak adil berdasarkan jenis kelaminnya, terutama terhadap perempuan.
Dalam pergaulan sehari-hari, terutama di kalangan teman sebaya, komentar seksis semacam ini masih sering saya temui.
Misalnya ungkapan seperti; “kau pu body gaga ee, press memang.”
Walaupun disampaikan sebagai candaan, kebiasaan ini secara tidak langsung memberikan legitimasi bagi pelaku untuk melangkah lebih jauh menuju pelecehan.
Pelecehan seksual pun bermula dari hal-hal verbal. Dalam konteks ini, bahasa menjadi alat yang memperkuat relasi kuasa laki-laki terhadap perempuan. Perempuan diposisikan sebagai objek yang dapat dinilai, dikomentari, bahkan dikendalikan
Fenomena ini juga semakin terlihat di media sosial. Banyak konten yang beredar hanya bertujuan untuk mengejar popularitas dan jam tayang tanpa memperhatikan etika maupun dampaknya.
Beberapa konten kreator bahkan menyajikan materi yang memuat komentar seksis.
Misalnya, “POV: Malam Pertama dengan Wanita Belis 100 juta tapi Minus Pernah Satu Kos dengan Mantan Dua Tahun.”
Konten seperti ini sering dianggap sekadar hiburan atau contoh situasi, tetapi jarang dipikirkan dampaknya bagi orang yang membaca atau melihatnya.
Contoh lain dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya membaca tulisan pada mobil taksi yang berbunyi, “Isi chat diprivasi, isi body dipublikasi.”
Kalimat semacam ini secara tidak langsung memperkuat pandangan bahwa tubuh perempuan adalah sesuatu yang boleh dipertontonkan dan dinilai oleh publik
Selain itu, budaya menyalahkan korban juga memperburuk situasi. Ketika seorang perempuan melaporkan pelecehan seksual, pertanyaan yang muncul sering kali berkaitan dengan cara berpakaian atau perilakunya.
Sebagian orang bahkan membenarkan tindakan pelaku dengan mengatakan, “Makanya perempuan harus tahu menjaga diri.”
Ironisnya, komentar seperti ini tidak hanya datang dari laki-laki, tetapi juga dari sesama perempuan. Sikap tersebut secara tidak langsung membenarkan tindakan pelaku dan membuat korban memilih untuk diam.
Dampak dari pelecehan seksual tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis. Korban dapat mengalami trauma mendalam yang memengaruhi kehidupan mereka dalam jangka panjang. Komentar yang mengobjektivikasi perempuan dapat berkembang menjadi siulan, sentuhan tanpa izin, hingga kekerasan seksual. Bahkan, perempuan yang menolak atau melawan pelecehan sering menghadapi ancaman, penguntitan, hingga pembunuhan.
Komentar seksis bukan hal sepele. Bahasa yang merendahkan perempuan dapat menjadi pintu awal bagi tindakan pelecehan dan kekerasan yang lebih besar.
Untuk mencegah tragedi serupa, masyarakat perlu menyadari pentingnya menghormati tubuh dan batasan pribadi setiap individu. Keberanian untuk menegur perilaku yang tidak pantas juga merupakan langkah penting dalam mengubah budaya yang selama ini membiarkan kekerasan terhadap perempuan terjadi. Upaya ini bukan sekadar menjaga kesopanan dalam berbicara, tetapi juga merupakan langkah penting untuk melindungi martabat dan hak perempuan.
Merayakan Perempuan dengan Mengubah Kebiasaan
Perilaku body shaming, catcalling, dan komentar seksis mungkin terlihat sepele. Tapi ketika suatu komunitas masyarakat terbiasa memperlakukan tubuh perempuan sebagai bahan komentar, ejekan, dan hiburan, kita sebenarnya sedang menyiapkan tanah tempat berbagai bentuk kekerasan yang lebih serius bisa tumbuh.
Perspektif feminis sejak lama mengingatkan kita bahwa kekerasan terhadap perempuan jarang berdiri sendiri. Ia hadir dalam sebuah spektrum. Ada yang terlihat sangat jelas seperti pemerkosaan atau pembunuhan. Ada juga yang tampak kecil, bahkan sering dianggap normal; ejekan tentang tubuh, siulan di jalan, komentar yang merendahkan perempuan.
Karena itu perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan tidak bisa hanya dimulai ketika tragedi besar terjadi. Ia juga harus dimulai dari keberanian untuk berhenti menertawakan body shaming, berhenti menormalisasi catcalling, dan berhenti menganggap komentar seksis sebagai sesuatu yang wajar.
Sering kali perubahan besar dalam masyarakat tidak dimulai dari peristiwa besar, tetapi dari keputusan-keputusan kecil tentang apa yang kita pilih untuk tidak lagi dianggap normal. Barangkali, di situlah makna Hari Perempuan Internasional menjadi relevan. Tidak hanya berhenti pada merayakan perempuan, tetapi juga berani mengubah budaya yang terlalu lama membuat mereka tidak aman. Selamat Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2026.