Ricko Wawo
Sebagai anak yang lahir dan tumbuh besar di Hubin Kloang, Silvy Chipy kini gelisah karena keberagaman makanan yang pernah dia nikmati sewaktu kecil tak lagi ia jumpai sekarang.
Makanan beragam berbahan dasar ubi, jagung, dan sayur-sayuran dari hutan mulai tersingkir dari meja makan, diganti makanan ultra-proses yang serba instan.
Kebanyakan generasi Z (kelahiran tahun 1997) di kampungnya tidak punya ‘keistimewaan’ menikmati olahan pangan lokal yang berasal dari kebun dan hutan di sekitar rumah mereka. Dalam hal ini, pangan lokal diartikan sebagai pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai potensi, kearifan, dan budaya setempat.
Kegelisahan inilah yang mendorong Silvy, dibantu sejumlah teman, menelusuri hutan dan kebun, untuk kembali mengumpulkan benih lokal, resep-resep masakan, dan menggali cerita pangan dari mama-mama di kampungnya.
Beberapa benih lokal berhasil mereka kumpulkan, seperti lona (kacang nasi dan wijen), lele heret (jagung berbiji kuning), lele merak (jagung berbiji kuning bertongkol merah), dan tiga jenis padi lokal; pare jarang wulun, pare merak, dan pare heret.
Dengan susah payah pula, Silvy dan kawan-kawan menemukan benih jewawut atau dalam bahasa setempat disebut wetan yang masih dilestarikan seorang nenek bernama Ina Agus. Di Hubin, wetan berkhasiat sebagai obat, dipakai dalam ritus-ritus adat, selain juga sebagai makanan bergizi tinggi.
Rangkaian projek dokumentasi pangan ini dinamai “Cerita Tungku,” yang terinspirasi dari kebiasaan berkumpul mama-mama saat mengolah masakan sambil menghangatkan tubuh di sekitar tungku dapur. Projek ini didukung oleh “WeSpeakUp.org,” organisasi nirlaba yang mendukung perempuan, pemuda, dan komunitas untuk bersuara, berjejaring, dan menggerakkan perubahan sosial.
Setelah tiga bulan mengumpulkan kembali benih-benih lokal dan resep dari para orang tua, “Cerita Tungku” pun menggelar acara makan siang bertajuk Ea tinu, himo li’ar, sebuah forum makan yang menyajikan rupa-rupa olahan pangan khas kampung Hubin Kloang.
“Makanan yang dulu saya sering makan sekarang sudah jarang dikonsumsi oleh anak-anak muda di sini, bahkan keponakan-keponakan saya juga tidak tahu makanan khas di kampung Hubin,” ujar Silvy dalam forum yang diselenggarakan di Hubin Kloang, Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Sabtu, 28 Februari 2026 ini.
Para peserta dari Maumere ikut berpartisipasi. Mama-mama pelaku pangan juga mendampingi peserta dengan antusias.
Menghadirkan kembali keberagaman pangan di meja makan adalah keharusan. Silvy ingin generasi mendatang tidak merasa asing dengan olahan pangan yang berasal dari tanah mereka sendiri. Pangan lokal menurutnya juga lebih bernilai gizi jika dibandingkan dengan pangan instan yang bisa dibeli di toko.
Silvy menyebutkan pergeseran pola konsumsi masyarakat di kampungnya tidak lepas dari pengaruh “makanan yang dibawa orang-orang dari luar yang semuanya serba instan dan seragam.”
“Saya ingin memantik kesadaran warga di kampung saya sendiri, khususnya generasi sekarang, untuk melihat makanan-makanan lokal di tempat kita itu juga enak dan bergizi untuk disantap,” ucap Silvy.
Niat baik ini, katanya, dimulai dari lingkungan keluarganya sendiri, sebelum dia bisa menjangkau keseluruhan masyarakat di Hubin. Oleh karena itu, dia juga membuat satu kebun contoh untuk menanam benih-benih lokal yang berhasil dikumpulkan.
Siang itu, setelah diajak menyusuri situs-situs penting pahlawan daerah Teka Iku, para peserta forum dihidangkan beragam jenis pangan lokal di atas wadah anyaman daun lontar (nerang, mona, seneng dan klekar).
Kikan, peserta dari Maumere, terkagum-kagum karena betapa kaya dan beragamnya makanan lokal yang disajikan. Piring makannya berisi daha le’le wuek (nasi campur jagung dan kacang), a’i ohu tu’in (ubi gaplek yang ditumbuk, dicampur kelapa lalu dibakar), dan kligong ilin (sejenis sayur hutan yang dilawar mentah dicampur kelapa).
Dia juga tak bisa menolak aroma gurih lurun manu kabor den (sup ayam kampung). Hidangan lengkap itu ditutupnya dengan minum tua bura bakut gete (moke putih yang diisi dalam bambu).
Sedangkan, Kartika Solapung memuji cita rasa alami pelbagai jenis pangan lokal yang disajikan. Tanpa bumbu penyedap rasa, olahan pangan lokal itu terasa lebih gurih di lidah. Penasaran dengan rasanya yang menggigit, hampir semua sajian dia santap dengan lahap, termasuk rei (jamur yang tumbuh di pohon enau), dan kudapan kesukaannya koro i’an luk (ikan teri kecil yang dihaluskan dicampur kelapa dan lombok).
“Semua rasanya alamiah, tanpa ada penyedap rasa berlebihan,” imbuh Kartika.
Intan Nuka, jurnalis asal Kupang, melahap terlebih dahulu lebon motong (bubur kelor) favoritnya, hini koro mude (sambal mentah), i’an ropen (ikan bakar), dan leba lawar (sayur paria yang dilawar mentah dicampur dengan ikan halus), lalu kabor kelut (kelapa muda) sebagai minuman pamungkas.
“Ini baru orang bilang real food,” ujarnya.
Sebagai jurnalis yang banyak menulis isu pangan, Intan coba membandingkan porsi sepiring pangan lokal dengan makanannya setiap hari. Olahan pangan lokal berbahan dasar jagung atau ubi membuat tubuhnya lebih tahan lapar meski porsi makannya sedikit. Sebaliknya, kebiasaan makan nasi putih dengan porsi yang banyak justru membuatnya cepat merasa lapar.
Hidangan terakhir yang dikeluarkan dari dapur adalah semangkuk ule gelo (ulat pohon kemiri) berkuah. Tidak banyak peserta yang mencobanya. Mungkin karena tak terbiasa. Aldo Fernandez salah satu yang menyantap ule gelo dengan riang.
“Rasanya seperti kulit kaki ayam,” katanya sambil mengunyah ule gelo.
Forum makan siang Ea tinu, himo li’ar bukan puncak dari upaya mengembalikan keberagaman pangan di meja makan kaum muda Hubin Kloang. Forum ini hanya satu dari rangkaian aktivitas panjang pelestarian pangan lokal yang tentu saja masih terhubung langsung dengan sekian banyak pengetahuan, tradisi, sejarah, dan terutama identitas orang Hubin Kloang.
Sejarah panjang kolonialisme dan politik pangan bias beras orde baru mengubah cara masyarakat memandang pangan yang telah menopang kehidupan mereka sekian lama. Pangan lokal, bagi Silvy, tidak bisa dipandang sebagai makanan masa lalu. Pangan lokal justru adalah jawaban dari kampenye-kampanye ketahanan pangan yang sering digaungkan pemerintah, dan sudah saatnya generasi muda diberi pemahaman tentang pentingnya pewarisan pangan lokal.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Teka Iku, Barto Dare, yang ditemui terpisah pada awal Maret, tidak menampik kalau pergeseran pola konsumi masyarakat Hubin Kloang merupakan pengaruh dari gaya hidup modern yang masuk sampai ke kampung.
Sampai dengan tahun 1980-an masyarakat Hubin masih menyantap pangan yang beragam. Saat itu, kenangnya, hanya guru atau pegawai negeri saja yang mulai terbiasa makan beras jatah dari pemerintah. Masyarakat lain masih dominan mengonsumsi olahan makanan berbahan dasar jagung, sorgum, dan pucuk sayuran dari hutan. Akan tetapi, karena profesi pegawai negeri dianggap punya status sosial yang lebih tinggi di kampung, masyarakat akhirnya menganggap beras putih yang dikonsumsi para pegawai juga merupakan makanan yang lebih baik. Pelan-pelan orang mulai berusaha membeli beras.
Hal lain yang mengubah pola konsumsi masyarakat Hubin, katanya, adalah mulai berkurangnya kebiasaan berkebun. Ini tidak lepas dari semakin meningkatnya kebutuhan hidup yang membutuhkan uang. Masyarakat harus mendapat uang untuk membiayai anak sekolah, misalnya, sehingga pekerjaan seperti tukang ojek, pegawai negeri, karyawan swasta, dan buruh kasar dipilih karena bisa menghasilkan uang harian atau bulanan. Sedangkan, berharap pada hasil panen di kebun saja tidak cukup bisa memenuhi biaya hidup, apalagi hasil panen pun tidak tentu.
“Sehingga sekarang yang pergi berkebun hanya orang tua seperti kami saja, generasi yang lebih muda tidak ke kebun lagi,” ujar Barto.
Kendati demikian, benih-benih lokal seperti jewawut (wetan) dan jali-jali (lele ho’on) masih tumbuh di kebun. Beberapa keluarga pun masih membudidayakannya. Khusus jewawut, tambah Barto, masih dibudidayakan karena punya peran sebagai material wajib dalam ritus-ritus adat di kampung.
Barto, yang juga seorang petani dan pengiris tuak, mendukung upaya pelestarian pangan lokal yang sedang dikerjakan Silvy dkk. Pelbagai kegiatan itu, termasuk forum makan pangan lokal, setidaknya bisa menggugah masyarakat, terutama anak-anak muda, untuk kembali menghadirkan pangan lokal di meja makan mereka.